
Ketika pertama kali Eka Budianta di terima bekerja di PT Tirta Investama, holding company dari Aqua Group untuk menjadi direktur urusan sosial, terbesit di benaknya apa tugas seorang penyair yang menjadi direktur urusan sosial?
Tentunya dia ingin mengetuk hati masyarakat agar lebih peduli terhadap lingkungan, manusia maupun alam. Hal inilah yang kemudian mendorongnya untuk mendirikan Yayasan Sahabat Aqua, yang nantinya ingin memobilisasi kesadaran publik agar secara kolektif melakukan kegiatan positif untuk air minum. Misalnya, mengembangkan konservasi-konservasi sumber air minum. Lantas pertanyaannya, apakah hal ini mungkin?
Inilah tantangan utama seorang penyair. Dapatkan kata-kata dipakai untuk memperbaiki dunia? Dapatkah puisi menggerakkan kesadaran masyarakat untuk semakin memperbaiki bumi dan kehidupannya? Kalau kata-kata dapat dipakai untuk mendidik, menakut-nakuti, menghibur, bahkan menyesatkan begitu banyak orang, maka si ‘tukang air’ yang merangkap juga menjadi penyair ini akan membuat puisi tentang air, agar kita dapat memahami dan mensyukuri keberadaan air.
Dua puisi Eka Budianta yang berjudul Hanya Untuk Sungai dan Hidup Seribu Sungai, adalah sebuah komunikasi yang coba dibangun Eka dengan masyarakat, khususnya penikmat sastra, agar tidak melupakan keberadaan air. Dalam sebuah kitab suci, ada sebuah ayat yang menjelaskan bahwa Tuhan akan memberi kekuatan pada manusia melalui air. Dan mungkin itu ada benarnya, paling tidak, dengan berfikir jernih seperti air, Eka berhasil menciptakan puisi-puisinya.
Dalam kepenulisan puisinya, Eka Budianta selalu menonjolkan isu-isu lingkungan dan sosial. Hal itu seperti tergambar dalam dua puisinya tentang air dan puisi-puisinya yang terkumpul dalam kumpulan puisinya yang berjudul, Masih Bersama Langit. Efek dari kata-kata yang dilukis Eka Budianta dalam puisi-puisi itu menjadi kuat, apabila persepsi tentang puisi itu cenderung menjadi habitual atau otomatis.
Mengutip kata-kata dari Shklovzky, “Imajeri bukanlah unsur konstitutif sastra karena imajeri hanyalah sarana untuk menciptakan kesan umum yang paling kuat, yakni salah satu dari sekian banyak sarana puitik untuk mengoptimalkan efek.”
Disini saya akan mencoba menafsirkan dua sajak puisi yang diciptakan Eka Budianta, sebagai upaya merubah pandangan dan memperbarui persepsi masyarakat terhadap dunia, dengan menggunakan pendekatan formalisme rusia. Karena formalisme rusia sama sekali tidak menempatkan makna dibawah bentuk. Perhatian mereka adalah pada hal-hal yang menyebabkan teks-teks mempunyai status unik sebagai hasil sastra. Sebagaimana yang dikatan Roman Jacobson via Newton, ‘subjek ilmu sastra bukanlah sastra, tetapi kesastraannya, yaitu, hal yang membuat suatu karya menjadi karya sastra.’
Sejarah Formalisme Rusia
Formalis lahir akibat ketidakpuasan penelitian ekspresivisme yang mengandalkan data biografis. Formalisme juga menentang karya sastra sebagai ungkapan pandangan hidup atau iklim dari perasaan masyarakat. Ciri khas kaum formalis dalam kajiannya selalu tak setuju adanya pembedaan antara bentuk dan isi.
Bentuk dan isi menurut mereka dapat didekati dari fungsinya, yaitu fungsi estetik sehingga menjadi karya sastra. Pada awalnya, pengarang menghadapi bahan mentah, baru menjadi masak setelah diolah secara estetis. Hasil olahan itu akan menunjukkan bahwa masing-masing unsur bentuk maupun isi ada fungsi tertentu.
Dari aspek keilmuan, formalisme sering dianggap paling menonjol. Keduanya dianggap sebagai tonggak keilmiahan penelitian sastra. Oleh karena, melalui hubungan perangkat struktur karya sastra akan dibangun sebuah keutuhan makna yang memenuhi standar ilmu.
Kaum formalis menekankan dua konsep dalam penelitian sastra, yaitu: pertama, konsep defamiliarisasi dan deotomatisasi. Defamiliarisasi adalah konteks sifat sastra yang aneh atau asing. Keanehan tersebut sebagai hasil sulapan pengarang dari bahan-bahan netral. Para pengarang memiliki kebebasan menyulap teks sastra yang sangat berbeda dengan suasana sesungguhnya. Akibatnya, teks bisa jadi sulit dikenali karena menggunakan bahasa yang spesifik (teks mengalami kehilangan deotomatisasi).
Ada dua fungsi defamiliarisasi yang penting. Pertama, sarana-sarana tersebut mengiluminasi konvensi-konvensi sosial dan linguistik. Fungsinya untuk memacu pembaca agar melihatnya secara kritis dan dalam cara yang baru. Kedua, sarana berperan dalam untuk menarik perhatian kepada bentuk itu sendiri. artinya, sarana itu memaksa pembaca untuk mengabaikan ramifikasi sosial dengan mengarahkan perhatian pada proses defamiliarisasi sebagai element seni. (Sayuti, 2005: 4)
Hal ini dapat dilihat dengan jelas dalam suatu esai yang ditulis oleh salah seorang Kritikus Baru terkemuka, Cleanth Brooks, yang berjudul “kritikus formalis”. Brook memulainya dengan beberapa pernyataan mendasar yang dianutnya: “ bahwa kritik sastra itu adalah pemerian atau penilaian suatu objek”; “bahwa perthatian utama kritik itu ialah yang berhubungan dengan masalah keutuhan—suatu keutuhan yang berhasil atau gagal oleh karya sastra, dan hubungan antara bagian yang satu dengan bagian lainnya dalam membentuk suatu keutuhan” ; “Bahwa dalam karya sastra yang berhasil, bentuk dan isi tidak bisa dipisahkan”; “bahwa bentuk itu isi”.
Brook kemudian menutup esainya dengan pernyataan berikut: “sastra banyak mempunyai ‘kegunaan’ dan para kritikus mengajukan kegunaan baru, yang beberapa diantaranya menarik. Tetapi dari semua kegunaan yang dipeoleh dari sastra itu akhirnya tergantung pada pengetahuan kita mengenai apa sebenarnya “makna” suatu karya sastra. Pengetahuan tersebut bersifat sangat mendasar.
Analisis formalis, lebih menekankan pada hipotesis-hipotesis yang telah dibangun sebelumnya. Fokus analisis adalah pada efek-efek estetika yang dihasilkan oleh sarana-sarana sastra, dan bagaimana kesastraan dibedakan serta dihubungkan dengan ekstra sastra. Dalam kaitan ini sarana estetis dipahami sebagai sarana ungkapan gagasan manusia ke dalam bentuk khusus.
Narasi Dua Puisi Air, si “Tukang Air”
Dua puisi Eka Budianta yang berjudul Hanya Untuk Sungai dan Hidup Seribu Sungai, dalam kumpulan puisinya yang berjudul Masih Bersama Langit, merupakan dua puisi yang saling berkaitan. Dan apabila puisi itu dijadikan satu maka akan membentuk satu naratif yang menceritakan perjalanan air dari sungai sampai kemudian mereka menjadi satu di laut.
Simak puisi pertama si ‘tukang air’ ini, yang berjudul Hanya Untuk Sungai;
Tiba-tiba sungai itu teringat laut// sungai mana tak boleh pergi ke laut/ sungai mana dilarang mengalir di sana?// ia marah/ berteriak/ meluap/ membanjiri rumah-rumah mewah// alam pun pucat menatapnya// langit menangis sederas-derasnya//
Hanya untuk sungai kamu menangis/ aku tahu/ aku merasa di pagi kelabu ketika hujan membasahi kota/ ketika lampu-lampu terjaga// dan penyair menyiapkan hati untuk segala yang terjadi/ bila sungai tak mencapai lautnya//
Sebelum masuk dalam ranah lebih luas lagi, karena ini merupakan analisis formalis, maka saya akan mencari satu hal yang mendominasi puisi ini. Yap, ketemu! Dia adalah sungai dan kemudian saya persepsikan sungai sebagai air, menggingat sungai masih sangat luas.
Dalam penelitian Formalisme, penekanan penelitiannya hanya dalam cerita (fabula), alur (sjuzet), dan motif (Fokkem & Kunne-Ibsch via Endraswara, 2004: 48). Jika diteliti menurut kacamata seorang formalis, puisi diatas juga mengandung unsur-unsur yang dikatakan oleh Fokkem dan Kunne-Ibsch.
Perjalanan ‘Air’ berawal ketika dirinya teringat tentang laut, saat dia masih di sungai. Seperti satu kalimat pembuka dalam puisinya itu, “Tiba-tiba sungai itu teringat laut”. Namun, perjalanan air itu harus mengalami beberapa kendala, dalam hal ini si Tukang Air maksud saya penyair, menggambarkan kendala-kendala yang harus dihadapi air untuk sampai laut. Dan hambatan ini, karena ulah manusia. Dalam kodratnya, air dimuka bumi ini harusnya mengalami sebuah siklus hidrologi, dimana mereka akan menjadi uap, awan, kemudian hujan yang turun kebumi dan ditampung tanah serta sungai, lalu kemudian mengalir ke lautan bebas untuk kembali menjadi uap.
Dalam puisi itu, air tidak bisa mengalir ke laut karena manusia telah membikin waduk-waduk, membuat pabrik dengan mengeringkan sungai, mengeksploitasi sumber daya alam yang ada di sungai, sehingga sungai-sungai tidak bisa menjadi ‘jalan’ air ke lautan lepas. Hal ini kemudian mengakibatkan terjadinya berbagai bencana alam, sebagai akibat terganggunya siklus mereka.

Hal itu seperti dalam kalimat; sungai mana dilarang mengalir di sana?// ia marah/ berteriak/ meluap/ membanjiri rumah-rumah mewah//. Mungkin karena siklus dari Tuhan ini diputus dan dirusak manusia, maka kemudian Tuhan marah, seperti yang tersirat dalam kalimat ini, alam pun pucat menatapnya// langit menangis sederas-derasnya//. Akibatnya Tuhan mengirimkan bencana bagi umat manusia secara bertubi-tubi.
Sebagai tukang air, penyair sepertinya merasa berdosa atas kerusakan yang dia dan manusia timbulkan terhadap keberadaan air di sungai. Si penyair kemudian menulis, Hanya untuk sungai kamu menangis/ aku tahu/ aku merasa di pagi kelabu ketika hujan membasahi kota/ ketika lampu-lampu terjaga. Dan si tukang air ini merasa bertanggung jawab untuk mengembalikan semuanya seperti sedia kala, karena dia juga seorang penyair, maka ia akan menulis puisi yang bisa menyentuh moral pembaca. Dan penyair menbyiapkan hati untuk segala yang terjadi/ bila sungai tak mencapai lautnya//
Puisi kedua berjudul Hidup Seribu Sungai, yang berada di lain halaman ternyata memiliki kesamaan alur, sehingga dapat dipastikan puisi itu merupakan lanjutan dari puisi si ‘tukang air’ yang pertama.
Seandainya kita bertemu malam ini/ aku tahu/ Kamu bukan sungai yang dulu/ di pegunungan engkau jernih/ gemericik/ tapi di kota// bebanmu berat keruh dan—aku tak mengenalimu—
Mungkin sudah digariskan/ aku mesti menyusuri hidup sendiri/ meskipun mungkin/ hanya mungkin kita akan berkumpul di laut//
Seandainya kita bertemu malam ini/ aku tahu/ kamu tak akan mengenaliku/ begitu banyak rahasia/ begitu sukar menerima segala telah berubah/ dan hanya bagus dalam mimpimu//
Mungkin aku tidak akan pergi/ meninggalkan kursi ini/ tidak!/ aku akan pikirkan segala terbaik untuk sungai-sungai lain yang kucintai//
Dalam puisinya yang kedua ini, penyair kembali menceritakan perjalanan air dari sungai ke laut, namun dari sudut pandang berbeda. Jika di puisi pertamanya si tukang air menceritakan duka air yang terjebak di sungai tidak bisa kembali ke laut, untuk meneruskan ceritanya. Lantas, dalam puisinya yang kedua ini, penyair ingin menggambarkan penyesalan dan penyesalan semua orang yang telah melupakan keberadaan air di sungai.
Sayangnya penyesalan penyair datang terlambat, air yang dijumpainya dulu sangat jernih dan selalu bergemericik di sela-sela bebatuan gunung. Kini penyair hanya menjumpai air yang semakin keruh, bercampur limbah-limbah pabrik, dan hampir dia tak mengenalinya, seperti yang ditulis penyair, Kamu bukan sungai yang dulu/ di pegunungan engkau jernih/ gemericik/ tapi di kota// bebanmu berat keruh dan—aku tak mengenalimu—
Telah banyak perubahan dan kesedihan yang dialami air, ketika harus melakukan siklus perjalanan dari sungai ke laut. Dan ironisnya, perubahan itu disebabkan oleh kita selaku manusia, lebih ironis lagi, perbuatan-perbuatan kita terhadap alam khususnya air seringkali tidak bersifat konservatif melainkan eksploitatif. Begitu sukar menerima segala telah berubah/ dan hanya bagus dalam mimpimu.
Sebagai penyair, manusia, dan tukang air—Eka Budianta—tak ingin lepas tanggung jawab mengenai masalah ini. Lewat Yayasan Sahabat Aqua, Eka Budianta ingin memobilisasi kesadaran publik agar secara kolektik melakukan kegiatan positif untuk air. Dan inilah tantangan seorang penyair bagaimana menemukan kata-kata untuk menggerakkan kesadaran manusia, dengan cara berfikir jernih dan lancar seperti air. Seperti bait penutup dalam puisi keduanya; Mungkin aku tidak akan pergi/ meninggalkan kursi ini/ tidak!/ aku akan pikirkan segala terbaik untuk sungai-sungai lain yang kucintai.

















