Senin, 2008 Agustus 18

Dua Puisi Air dari Si “Tukang Air”


Ketika pertama kali Eka Budianta di terima bekerja di PT Tirta Investama, holding company dari Aqua Group untuk menjadi direktur urusan sosial, terbesit di benaknya apa tugas seorang penyair yang menjadi direktur urusan sosial?

Tentunya dia ingin mengetuk hati masyarakat agar lebih peduli terhadap lingkungan, manusia maupun alam. Hal inilah yang kemudian mendorongnya untuk mendirikan Yayasan Sahabat Aqua, yang nantinya ingin memobilisasi kesadaran publik agar secara kolektif melakukan kegiatan positif untuk air minum. Misalnya, mengembangkan konservasi-konservasi sumber air minum. Lantas pertanyaannya, apakah hal ini mungkin?


Inilah tantangan utama seorang penyair. Dapatkan kata-kata dipakai untuk memperbaiki dunia? Dapatkah puisi menggerakkan kesadaran masyarakat untuk semakin memperbaiki bumi dan kehidupannya? Kalau kata-kata dapat dipakai untuk mendidik, menakut-nakuti, menghibur, bahkan menyesatkan begitu banyak orang, maka si ‘tukang air’ yang merangkap juga menjadi penyair ini akan membuat puisi tentang air, agar kita dapat memahami dan mensyukuri keberadaan air.

Dua puisi Eka Budianta yang berjudul Hanya Untuk Sungai dan Hidup Seribu Sungai, adalah sebuah komunikasi yang coba dibangun Eka dengan masyarakat, khususnya penikmat sastra, agar tidak melupakan keberadaan air. Dalam sebuah kitab suci, ada sebuah ayat yang menjelaskan bahwa Tuhan akan memberi kekuatan pada manusia melalui air. Dan mungkin itu ada benarnya, paling tidak, dengan berfikir jernih seperti air, Eka berhasil menciptakan puisi-puisinya.

Dalam kepenulisan puisinya, Eka Budianta selalu menonjolkan isu-isu lingkungan dan sosial. Hal itu seperti tergambar dalam dua puisinya tentang air dan puisi-puisinya yang terkumpul dalam kumpulan puisinya yang berjudul, Masih Bersama Langit. Efek dari kata-kata yang dilukis Eka Budianta dalam puisi-puisi itu menjadi kuat, apabila persepsi tentang puisi itu cenderung menjadi habitual atau otomatis.

Mengutip kata-kata dari Shklovzky, “Imajeri bukanlah unsur konstitutif sastra karena imajeri hanyalah sarana untuk menciptakan kesan umum yang paling kuat, yakni salah satu dari sekian banyak sarana puitik untuk mengoptimalkan efek.”

Disini saya akan mencoba menafsirkan dua sajak puisi yang diciptakan Eka Budianta, sebagai upaya merubah pandangan dan memperbarui persepsi masyarakat terhadap dunia, dengan menggunakan pendekatan formalisme rusia. Karena formalisme rusia sama sekali tidak menempatkan makna dibawah bentuk. Perhatian mereka adalah pada hal-hal yang menyebabkan teks-teks mempunyai status unik sebagai hasil sastra. Sebagaimana yang dikatan Roman Jacobson via Newton, ‘subjek ilmu sastra bukanlah sastra, tetapi kesastraannya, yaitu, hal yang membuat suatu karya menjadi karya sastra.’


Sejarah Formalisme Rusia
Formalis lahir akibat ketidakpuasan penelitian ekspresivisme yang mengandalkan data biografis. Formalisme juga menentang karya sastra sebagai ungkapan pandangan hidup atau iklim dari perasaan masyarakat. Ciri khas kaum formalis dalam kajiannya selalu tak setuju adanya pembedaan antara bentuk dan isi.

Bentuk dan isi menurut mereka dapat didekati dari fungsinya, yaitu fungsi estetik sehingga menjadi karya sastra. Pada awalnya, pengarang menghadapi bahan mentah, baru menjadi masak setelah diolah secara estetis. Hasil olahan itu akan menunjukkan bahwa masing-masing unsur bentuk maupun isi ada fungsi tertentu.

Dari aspek keilmuan, formalisme sering dianggap paling menonjol. Keduanya dianggap sebagai tonggak keilmiahan penelitian sastra. Oleh karena, melalui hubungan perangkat struktur karya sastra akan dibangun sebuah keutuhan makna yang memenuhi standar ilmu.

Kaum formalis menekankan dua konsep dalam penelitian sastra, yaitu: pertama, konsep defamiliarisasi dan deotomatisasi. Defamiliarisasi adalah konteks sifat sastra yang aneh atau asing. Keanehan tersebut sebagai hasil sulapan pengarang dari bahan-bahan netral. Para pengarang memiliki kebebasan menyulap teks sastra yang sangat berbeda dengan suasana sesungguhnya. Akibatnya, teks bisa jadi sulit dikenali karena menggunakan bahasa yang spesifik (teks mengalami kehilangan deotomatisasi).

Ada dua fungsi defamiliarisasi yang penting. Pertama, sarana-sarana tersebut mengiluminasi konvensi-konvensi sosial dan linguistik. Fungsinya untuk memacu pembaca agar melihatnya secara kritis dan dalam cara yang baru. Kedua, sarana berperan dalam untuk menarik perhatian kepada bentuk itu sendiri. artinya, sarana itu memaksa pembaca untuk mengabaikan ramifikasi sosial dengan mengarahkan perhatian pada proses defamiliarisasi sebagai element seni. (Sayuti, 2005: 4)

Hal ini dapat dilihat dengan jelas dalam suatu esai yang ditulis oleh salah seorang Kritikus Baru terkemuka, Cleanth Brooks, yang berjudul “kritikus formalis”. Brook memulainya dengan beberapa pernyataan mendasar yang dianutnya: “ bahwa kritik sastra itu adalah pemerian atau penilaian suatu objek”; “bahwa perthatian utama kritik itu ialah yang berhubungan dengan masalah keutuhan—suatu keutuhan yang berhasil atau gagal oleh karya sastra, dan hubungan antara bagian yang satu dengan bagian lainnya dalam membentuk suatu keutuhan” ; “Bahwa dalam karya sastra yang berhasil, bentuk dan isi tidak bisa dipisahkan”; “bahwa bentuk itu isi”.

Brook kemudian menutup esainya dengan pernyataan berikut: “sastra banyak mempunyai ‘kegunaan’ dan para kritikus mengajukan kegunaan baru, yang beberapa diantaranya menarik. Tetapi dari semua kegunaan yang dipeoleh dari sastra itu akhirnya tergantung pada pengetahuan kita mengenai apa sebenarnya “makna” suatu karya sastra. Pengetahuan tersebut bersifat sangat mendasar.

Analisis formalis, lebih menekankan pada hipotesis-hipotesis yang telah dibangun sebelumnya. Fokus analisis adalah pada efek-efek estetika yang dihasilkan oleh sarana-sarana sastra, dan bagaimana kesastraan dibedakan serta dihubungkan dengan ekstra sastra. Dalam kaitan ini sarana estetis dipahami sebagai sarana ungkapan gagasan manusia ke dalam bentuk khusus.


Narasi Dua Puisi Air, si “Tukang Air”
Dua puisi Eka Budianta yang berjudul Hanya Untuk Sungai dan Hidup Seribu Sungai, dalam kumpulan puisinya yang berjudul Masih Bersama Langit, merupakan dua puisi yang saling berkaitan. Dan apabila puisi itu dijadikan satu maka akan membentuk satu naratif yang menceritakan perjalanan air dari sungai sampai kemudian mereka menjadi satu di laut.

Simak puisi pertama si ‘tukang air’ ini, yang berjudul Hanya Untuk Sungai;
Tiba-tiba sungai itu teringat laut// sungai mana tak boleh pergi ke laut/ sungai mana dilarang mengalir di sana?// ia marah/ berteriak/ meluap/ membanjiri rumah-rumah mewah// alam pun pucat menatapnya// langit menangis sederas-derasnya//

Hanya untuk sungai kamu menangis/ aku tahu/ aku merasa di pagi kelabu ketika hujan membasahi kota/ ketika lampu-lampu terjaga// dan penyair menyiapkan hati untuk segala yang terjadi/ bila sungai tak mencapai lautnya//

Sebelum masuk dalam ranah lebih luas lagi, karena ini merupakan analisis formalis, maka saya akan mencari satu hal yang mendominasi puisi ini. Yap, ketemu! Dia adalah sungai dan kemudian saya persepsikan sungai sebagai air, menggingat sungai masih sangat luas.
Dalam penelitian Formalisme, penekanan penelitiannya hanya dalam cerita (fabula), alur (sjuzet), dan motif (Fokkem & Kunne-Ibsch via Endraswara, 2004: 48). Jika diteliti menurut kacamata seorang formalis, puisi diatas juga mengandung unsur-unsur yang dikatakan oleh Fokkem dan Kunne-Ibsch.

Perjalanan ‘Air’ berawal ketika dirinya teringat tentang laut, saat dia masih di sungai. Seperti satu kalimat pembuka dalam puisinya itu, “Tiba-tiba sungai itu teringat laut”. Namun, perjalanan air itu harus mengalami beberapa kendala, dalam hal ini si Tukang Air maksud saya penyair, menggambarkan kendala-kendala yang harus dihadapi air untuk sampai laut. Dan hambatan ini, karena ulah manusia. Dalam kodratnya, air dimuka bumi ini harusnya mengalami sebuah siklus hidrologi, dimana mereka akan menjadi uap, awan, kemudian hujan yang turun kebumi dan ditampung tanah serta sungai, lalu kemudian mengalir ke lautan bebas untuk kembali menjadi uap.

Dalam puisi itu, air tidak bisa mengalir ke laut karena manusia telah membikin waduk-waduk, membuat pabrik dengan mengeringkan sungai, mengeksploitasi sumber daya alam yang ada di sungai, sehingga sungai-sungai tidak bisa menjadi ‘jalan’ air ke lautan lepas. Hal ini kemudian mengakibatkan terjadinya berbagai bencana alam, sebagai akibat terganggunya siklus mereka.

Hal itu seperti dalam kalimat; sungai mana dilarang mengalir di sana?// ia marah/ berteriak/ meluap/ membanjiri rumah-rumah mewah//. Mungkin karena siklus dari Tuhan ini diputus dan dirusak manusia, maka kemudian Tuhan marah, seperti yang tersirat dalam kalimat ini, alam pun pucat menatapnya// langit menangis sederas-derasnya//. Akibatnya Tuhan mengirimkan bencana bagi umat manusia secara bertubi-tubi.

Sebagai tukang air, penyair sepertinya merasa berdosa atas kerusakan yang dia dan manusia timbulkan terhadap keberadaan air di sungai. Si penyair kemudian menulis, Hanya untuk sungai kamu menangis/ aku tahu/ aku merasa di pagi kelabu ketika hujan membasahi kota/ ketika lampu-lampu terjaga. Dan si tukang air ini merasa bertanggung jawab untuk mengembalikan semuanya seperti sedia kala, karena dia juga seorang penyair, maka ia akan menulis puisi yang bisa menyentuh moral pembaca. Dan penyair menbyiapkan hati untuk segala yang terjadi/ bila sungai tak mencapai lautnya//

Puisi kedua berjudul Hidup Seribu Sungai, yang berada di lain halaman ternyata memiliki kesamaan alur, sehingga dapat dipastikan puisi itu merupakan lanjutan dari puisi si ‘tukang air’ yang pertama.

Seandainya kita bertemu malam ini/ aku tahu/ Kamu bukan sungai yang dulu/ di pegunungan engkau jernih/ gemericik/ tapi di kota// bebanmu berat keruh dan—aku tak mengenalimu—

Mungkin sudah digariskan/ aku mesti menyusuri hidup sendiri/ meskipun mungkin/ hanya mungkin kita akan berkumpul di laut//

Seandainya kita bertemu malam ini/ aku tahu/ kamu tak akan mengenaliku/ begitu banyak rahasia/ begitu sukar menerima segala telah berubah/ dan hanya bagus dalam mimpimu//

Mungkin aku tidak akan pergi/ meninggalkan kursi ini/ tidak!/ aku akan pikirkan segala terbaik untuk sungai-sungai lain yang kucintai//

Dalam puisinya yang kedua ini, penyair kembali menceritakan perjalanan air dari sungai ke laut, namun dari sudut pandang berbeda. Jika di puisi pertamanya si tukang air menceritakan duka air yang terjebak di sungai tidak bisa kembali ke laut, untuk meneruskan ceritanya. Lantas, dalam puisinya yang kedua ini, penyair ingin menggambarkan penyesalan dan penyesalan semua orang yang telah melupakan keberadaan air di sungai.

Sayangnya penyesalan penyair datang terlambat, air yang dijumpainya dulu sangat jernih dan selalu bergemericik di sela-sela bebatuan gunung. Kini penyair hanya menjumpai air yang semakin keruh, bercampur limbah-limbah pabrik, dan hampir dia tak mengenalinya, seperti yang ditulis penyair, Kamu bukan sungai yang dulu/ di pegunungan engkau jernih/ gemericik/ tapi di kota// bebanmu berat keruh dan—aku tak mengenalimu—

Telah banyak perubahan dan kesedihan yang dialami air, ketika harus melakukan siklus perjalanan dari sungai ke laut. Dan ironisnya, perubahan itu disebabkan oleh kita selaku manusia, lebih ironis lagi, perbuatan-perbuatan kita terhadap alam khususnya air seringkali tidak bersifat konservatif melainkan eksploitatif. Begitu sukar menerima segala telah berubah/ dan hanya bagus dalam mimpimu.

Sebagai penyair, manusia, dan tukang air—Eka Budianta—tak ingin lepas tanggung jawab mengenai masalah ini. Lewat Yayasan Sahabat Aqua, Eka Budianta ingin memobilisasi kesadaran publik agar secara kolektik melakukan kegiatan positif untuk air. Dan inilah tantangan seorang penyair bagaimana menemukan kata-kata untuk menggerakkan kesadaran manusia, dengan cara berfikir jernih dan lancar seperti air. Seperti bait penutup dalam puisi keduanya; Mungkin aku tidak akan pergi/ meninggalkan kursi ini/ tidak!/ aku akan pikirkan segala terbaik untuk sungai-sungai lain yang kucintai.
Baca Selengkapnya...

Jumat, 2008 Agustus 15

7 Review Kecil Catatan Perjalanan Karya Sastra Indonesia

Judul Buku : Student Hijo
Penulis : Marco Kartodikromo
Penerbit : Yayasan Aksara Indonesia, Yoyakarta
Tahun Terbit : Cetakan Pertama, Februari 2000

Student Hijo, Embrio Sastra Perlawanan

Sudent Hijo, awal terbit pada tahun 1918 di surat kabar Harian Sinar Hindia, dan menjadi buku sepuluh tahun kemudian. Novel yang berlatarkan Indonesia sebelum perang ini, dengan berani mengkontraskan kehidupan di Nederland dan Hindia Belanda. Keberanian Marco ini kemudian dijadikan alasan, untuk kemudian diasingkan oleh dominasi dan hegemoni Balai Pustaka.

Berkisah tentang Hijo yang disekolahkan ayahandanya Potronoyo ke Nederland, Belanda, meski ditentang Raden Nganten, namun Raden Potronoyo tetap bersikeras untuk mengirim Hijo ke Nederland. Ia ingin membuktikan, bahwa, keluarganya yang seorang pribumi ini, sanggup menyekolahkan anaknya seperti kaum bangsawan Kolonial ke Nederland.

Kebudayaan pribumi yang terlanjur diinjak-injak, dihina oleh bangsawan kolonial, ternyata memiliki derajat serta kemampuan yang setara. Sindiran halus inilah yang sebenarnya bentuk konkret perlawanan yang digambarkan Marco Kartodikromo dalam novelnya Student Hijo. Namun, kerap kali interpretasi pembaca dan kritikus sastra meleset, karena dalam novel ini, tokoh-tokohnya merupakan kaum bangsawan jawa.

Satiran antara realitas budaya kaum bangsawan Kolonial Belanda di Hindia Belanda dengan kaum bangsawan di negara Asalnya sana, Belanda, sangat jauh berbeda. Di sana, di Nederland, semua manusia mendapat kedudukan yang sama, tidak ada ketertindasan yang dilakukan kaum bangsawan terhadap orang Hindia Belanda. Namun di negara asal Hijo, ketidakadilan seringkali dilakukan kaum bangsawan Kolonial terhadap pribumi.

Meski banyak sekali sindiran-sindiran perlawanan, namun novel ini tetaplah menarik untuk diikuti, karena adanya kisah percintaan segitiga antara Hijo dengan R.A. Biru, dan R.A. Wunggu, serta perasaan Wardoyo dengan R.A. Biru. Mungkin, jika istilah ciklit maupun tinlit sudah ada saat itu, novel inilah yang kemudian bergenre seperti itu. Alur yang dibangun, linier, mudah sekali diikuti dan ditebak endingnya. Sekali kali, bukan itu hal utama yang ingin dihadirkan pengarangnya, namun, dimana kemudian novel ini membangkitkan semangat Nasionalisme pada tubuh pribumi, yang lama tidak percaya diri, karena selalu termarginalkan oleh budaya Kolonialisme.


Judul Buku : Belenggu
Pengarang : Arjmin Pane
Penerbit : Dian Rakyat, Jakarta
Tahun Terbit : Cetakan kedelapan, 2004

Modernitas dalam Novel Belenggu


Belenggu merupakan novel anak bangsa pra perang, yang telah sadar dalam mengkomposisikan penceritaan, nilai-nilai kebaruan yang dimunculkan, membuat novel ini terlepas dari konvensi prosa lama. Menurut Umar Junus, dalam bukunya yang berjudul Sosiologi Sastera, Persoalan Teori dan Metode, dikatakan bahwa; Armijn Pane sengaja meninggalkan tradisi hikayat. Ini antara lain dilakukan dengan menggunakan kelimat-kalimat yang pendek untuk memberikan kesan gerak (sense of movement).

Kesadaran akan penceritaan inilah kemudian Armijn Pane sengaja mempertentangkan antara pemakaian bahasa dan bersuasana modern dengan nada tradisi dalam cerita belenggu, sehingga sejalan dengan pertentangan antara tradisi dan modern yang merupakan persoalan. Persoalan pertentangan antara modernitas dengan tradisi inilah (diluar pemakaian bahasa), yang kemudian dialami oleh tokoh Tono, atau Sukartono, yang ingin mengikis sedikit tradisi feodal bangsanya dengan bergaya ala kaum liberal.

Berawal ketika dokter Sukartono, dokter yang hidup berkecukupan bersama istrinya yang bernama Tini. Pada zaman Kolonial saat itu, memang sedikit orang yang memiliki pengaruh terhadap masyarakat karena dianggap mempunyai kemampuan lebih. Di sini, Sukartono yang kerap kali dipanggil Tono, menjadi dokter yang mempuanyai jam terbang tinggi, bahkan ia memiliki popularitas di kalangan bansawan saat itu.

Tono mempunyai sifat suka sekali berganti-ganti perempuan, sebelum ia benar-benar menikah dengan istrinya Tini. Setelah menikah dengan Tini, kehidupan Tono seakan terpenjara dalam “belenggu” yang dibuat Tini, ia ingin seperti dulu, bergaul dengan banyak perempuan, kembali hidup sebagai manusia yang liberal. Kesempatan itu datang juga, ketika Tono berkenalan dengan Eni, pasiennya, dari pasiennya inilah kemudian Tono mendonstruksi “hikayat” tradisi yang ada dalam keluarganya, dan dirinya.

Kemodernitas dari segi bahasa, yaitu dari bahasa Melayu ke bahasa Indonesia, juga kemodernitas gaya hidup penokohan, yang mencoba mengkritik feodalisme yang penuh dengan “belenggu”, tidak terus melenakan Armijn Pane dalam membuat unsur-unsur intrinsik lainnya bersenyawa. Penceritaannya telah mempunyai kesan kemodernitas.


Judul Buku : Pengakuan Pariyem
Pengarang : Linus Suryadi Ag
Penerbit : Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Tahun Terbit : Cetakan keenam, Januari 2002

Pengakuan Pariyem; Sebagai Ensiklopedi Kultur Jawa

Membaca prosa liris milik Linus Suryadi Ag, seakan-akan kita membuka kitab tentang budaya Jawa, yang akhir-akhir ini, mengalami dekadensi yang cukup memprihatinkan. Prosa liris yang diberi judul Pengakuan Pariyem ini, bercerita tantang seorang babu, pembantu yang bekerja dalam keluarga yang sarat akan budaya Jawa di bumi Jogjakarta. Meski berpredikat sebagai babu, Iyem, Maria Magdalena Pariyem yang lahir di Wonosari Gunung Kidul, Ngayogyakarta, begitu lilo (rela) dengan kebabuannya, begitu pasrah dalam memandang hidup ini, di dalam jiwanya, tersimpan “kebijaksaan” hidup.

Oleh Linus, Iyem digambarkan sebagai sosok perempuan, memiliki kelebihan dan kapasitas, dalam mengenali serta mempraktekkan budaya Jawa yang ia peroleh langsung dari simbok-nya. Ia juga mampu bercerita tentang hidup, tentang masyarakat, tentang potret keluara bangsawan tempat ia mengabdi, yang penuh akan kultur Jawa yang tenang, namun mengalir demikian tak tertahankan.

Buku ini, sarat akan muatan-muatan ajaran hidup, budaya-budaya Jawa memang sengaja di tonjolkan Linus dalam bukunya ini, karena ia ingin menjaga budaya nenek moyangnya mengenai kejawaan, agar tidak lekang. Cukup bijaksana cita-cita yan diemban Linus, meski budaya-budaya Jawa sarat juga akan ke-sakralan, Linus berani mempercandainya, menorehkan kata-kata saru di dalamnya. Kesaruan-kesaruan itu, menurut Bakdi Soemanto; malah memendarkan nilai-nilai estetik. Begitu lihainya Linus dalam memainkan kata-kata, membuat bukunya ini cocok untuk dibaca semua kalangan, yang ingin mengenal budaya Jawa, khususnya.

Selalu nrimo, menjadi pegangan Iyem dalam mengabdi pada ndoro Kanjeng Cokro Sentono di ndalem Suryomentaraman Ngayogyakarta, membuat ia terjerumus pada masalah yang cukup dilematis. Ia berbuat serong dengan Mas Ario, Putra dari Kanjeng Cokro. Permasalahan yang terus berkecambuk di pikiran Iyem ini, yang kemudian mengalir menjadi bingkai utama dalam penceritaan Linus. Memang prosa liris ini menjerumus pada penceritaan psikologis, disini yang menjadi tokoh utama adalah Iyem, Maria Magdalena Pariyem.

Meski sarat akan permasalahan yang berkelindan dalam psikologis Iyem, namun prosa liris ini dapat disebut sebagai ensiklopedia atas kebuyaan Jawa. Menurut Bakdi Soemanto; alasannya bukan saja dalam prosa lirik ini dilukiskan peta hubungan priyayi dan wong cilik, tetapi juga gambaran bagaimana nadi salira, menjaa diri tetap bugar, segar dan harum, khususnya bagi perempuan, dan terutama seorang perempuan dan harus ngawula, menghambakan diri di rumah seoran priyayi.


Judul buku : Mantra Penjinak Ular
Pengarang : Kuntowijoyo
Penerbit : Kompas, Jakarta
Tahun Terbit : Oktober 2000

Meleburkan Mitos pada Realitas

Abu Kasan Sapari, tokoh utama dalam novel Mantra Pejinak Ular, karangan Kuntowijoyo ini, lahir di sebuah desa Palar, Klaten dari sebuah keluarga yang masih kental kepercayaannya terhadap mitos-mitos di Jawa. Semenjak baru lahir, Abu Kasan Sapari, telah dijejali kepercayaan-kepercayaan orang jawa oleh kakeknya sendiri. Dia oleh kakeknya, di mintakan restu di makam Rongowarsito untuk ngalap berkah. Di situlah, kemudian kakek Abu Kasan Sapari, mendapat firasat, kelak cucunya bakal jadi seorang pujangga.

Ketika besar, Abu Kasan Sapari menjadi dalang yang cukup terkenal di daerah lereng Gunung Lawu. Selain mendalang, Abu juga menjadi pegawai pemerintahan. Oleh mesin politik Orde Baru yang ketika itu berkuasa, Abu Kasan kerapkali disodori oleh “kehormatan” untuk menjadi Calon Anggota Legislatif, namun ditolak oleh Abu Kasan. Abu Kasan percaya, jika mereka hanya mendompleng pada ketenarannya sebagai dalang. “Kesenian itu berbeda dengan kekuasaan. Kesenian membujuk, kekuasaan memaksa. Kesenian berbicara dengan lambang, kekuasaan thok-leh. Kesenian itu sinamun in samudana, tersamar, tidak langsung. Semua ada tempatnya...”, begitulah yang selalu dipegang teguh Abu Kasan Sapari.

Lewat pertumbuhan karakter tokoh Abu Kasan Sapari, pengarang mencoba menyelami ranah realitas politik yang ada di dalam negeri ini. Meski kecewa atas kondisi negara ini, pengarang tidak sampai hanyut dan menghujat mesin politik yang tidak becus mengemudikan laju pemerintahan. Benturan-benturan kepentingan yang dialami Abu Kasan, baik sebagai dalang dengan lingkungan sosialnya maupun sebagai pegawai negeri sipil yang identik dengan “kejahatan-kejahatan” kekuasaan dengan mesin politik orde baru, kerapkali menimbulkan permasalahan yang dilematis.

Suatu malam di tempat sunyi tak jauh dari lokasi cembeng (tanda akan dimulainya musim giling tebu), Abu Kasan bertemu dengan seorang lelaki tua, oleh lelaki tua itu, Abu Kasan diwarisi mantra untuk menjinakkan ular. Inilah, sisi lain dari dunia mistis Jawa yang juga mewarnai cerita dalam novel ini. Menurut pengarangnya, memang sengaja dihadirkan untuk memberi aksentuasi simbolik terhadap sebuah mitos, yang kemudian dapat ditafsirkan kembali oleh pembaca.

Dari situlah kemudian intrepretasi tentang “mitos” terhadap realitas muncul. Menurut novel ini, mereka yang hidup dalam mitos tak akan menangani realitas. Menurut pengarang, Realitas tidak akan terpecahkan dengan kebiasaan kita untuk menghindar dan melakukan abstraksi, cara berfikir berdasarkan mitos. Dan, bangsa kita akan tetap survive
Jika meninggalkan cara berfikir berdasarkan mitos, menuju cara berfikir realitas.


Judul Buku : Tuhan, ijinkan aku menjadi pelacur!
Penulis : Muhidin M. Dahlan
Penerbit : Melibas, Yogyakarta
Tahun Terbit : Cetakan Ketiga (revisi), Januari 2004

Ideologi dalam Novel “tuhan, ijinkan aku menjadi pelacur” Karya Muhidin M Dahlan

Karya sastra kerapkali oleh penulisnya dijadikan media untuk mentransformasi pikiran (baca idiologi) untuk kepentingan sendiri maupun kolektif. Misi yang ingin di tuangkan dalam buah karya penulisnya, seakan terbalut rapi dengan bahasa dan cerita rekaan yang di dalamnya pengarang bebas bereksperimen. Imajinasi yang terlewat bebas dan dunia khayal yang terlampau luas ini kemudian membuat pengarang bebas menelusupkan duri-duri pikirannya yang terkadang kelewat “nakal”.

“Pencerahan” hal utama yang idealnya ada setelah membaca sebuah karya sastra. Namun, tak jarang pula pertentangan, gejolak psikologi pembaca ikut teraduk hingga kemudian menggoyahkan kepercayaan yang selama ini dibangun pembaca. Menurut Aminuddin karya sastra merupakan gejala komunikasi bahasa. Sebagai gejala komunikasi bahasa karya sastra merupakan wujud “material” tetapi merupakan gejala yang mengandung sesuatu yang lain.
Pada novel Muhidin M Dahlan yang berjudul tuhan, ijinkan aku menjadi pelacur, yang jika ditilik, ternyata berjejal pemikiran dan kajian. Beragam simbolik dalam novel itu tak lepas dari makna yang sebenarnya terkandung di dalamnya, seperti sebuah koin mata uang, keduanya tak terpisahkan. Dalam tulisan ini saya hanya akan membatasi pada ideologi yang terkandung di dalam novel itu. Karena saya melihat “pencerahan” yang ingin disampaikan mungkin masih belum sepenuhnya bisa diterima dalam masyarakat kita yang plural.

Dalam novel ini dikisahkan tentang Nidah Kirani, yang kecewa terhadap ideologi yang selama ini selalu bisa dianggap tempat menemukan jati dirinya sebagai seorang muslim. Kepercayaan itu kemudian lekang, ketika ternyata “mereka” sama munafiknya dengan seorang “kafir”. Disinilah kemudian jiwa Nidah Kirani bimbang, terpecah menjadi ketidakpercayaan terhadap sebuah hal yang benama “agama”. Dalam pencarian kembali yang kemudian oleh penulisnya dijadikan landasan penceritaan, dengan menggunakan sudut pandang ke-aku-an. Novel ini semakin menarik karena pergolakan/tarik-menarik ideologi seperti halnya ketika berjualan “kacang rebus”, secara terbuka diceritakan oleh Muhidin dalam novelnya. Meski terkesan novel yang sarat akan doktrinasi, namun novel ini tetap memendarkan keindahan penceritaan yang unsur-unsur intrinsiknya saling bertautan.

Menurut Antoine de Tracy, seorang filsuf dari Prancis, memandang ideologi sebagai ilmu tentang pikiran manusia yang kemudian mampu menunjukkan arah yang benar menuju masa depan. Awalnya, Nidah Kirani masuk organisasi Islam dengan maksud, ingin mendalami ilmu tentang agama yang selama ini ia anut. Saat organisasinya membuat cita-cita tentang, bagaimana kemudian membuat masyarakat Islam kembali menegakkan kedudukan Islam dalam dunia modern sekarang, ia mengamininya. Menegakkan syariat hanya bisa dengan pemerintahan Islam, bukan pemerintahan yang memiliki banyak agama.

Disitulah letak sentra-pikiran yang ada dalam kolektif Nidah Kirani, yaitu menjadikan syariat Islam, kembali tegak, sama ketika Islam mengalami kejayaan pada abad-abad awal. Dalam benak sang tokoh, hal tersebut memang bisa diterima, karena melihat cita-cita agamanya secara globang memanglah demikian.

Setelah semuanya ia berikan untuk organisasi, ternyata ia kecewa, karena melihat banyak dari teman-teman seperjuangannya tidak lagi “sejalan”, meski mereka masih bertudung nama organisasi. Bahkan ia pernah sekali akan diperkosa oleh seniornya, hal yang sebenarnya sangat ditabukan itu ternyata dengan mudah dilangar. Kekecewaan demi kekecewaan terhadap organisasi dan kemudian terhadap agama yang selama ini ia kukuh di dalamnya, membuatnya bimbang, ia merasa jalan itu bukan arah yang benar. Perbuatan dengan apa yang dicita-citakan oleh organisasinya ternyata berbeda sama sekali.

Kehidupan kirani berubah total, ia tidak lagi percaya pada ideologi, lebih-lebih pada ideologi religius. Dalam perjalanannya, dikisahkan oleh penulis, kirani menjadi wanita yang menganut kehidupan bebas, bahkan ia menantang Tuhan untuk melihat perilakunya. Disini penulis meletakkan Ideologi menjadi imajiner semata. Oleh Louis Althuser dikatakan bahwa sebagian besar ideologi itu imajiner, bila Ideologi dibahas dalam sudut pandang yang kritis, dengan mengujinya sebagaimana ahli etnologi menguji pelbagai Mitos dari “masyarakat primitif”. Jadi ideologi tidak berhubungan dengan realitas.

Memang kemudian terjadi kontroversi atas novel karya Muhidin M Dahlan ini. Karena dalam novel tuhan, ijinkan aku menjadi pelacur, penulis terlampau jauh membawa panji agama, menyeberang batas budaya, yang dalam realitas, kejadian seperti ini masihlah awam. Meski yang ditulis Muhidin dalam novel itu benar-benar terjadi pada seseorang, namun, fenomena seperti ini benar-benar menyodok “nalar” masyarakat yang masih kental akan feodalisme seperti di Yogyakarta (novel ini berlatarkan kota Yogyakarta).

Masyarakat kita yang mayoritas ber-ideologikan religius yang disini adalah agama Islam, seakan-akan disuguhi dengan peristiwa yang sebenarnya berkebalikan atas dogma yang mereka terima. Karya sastra yang seharusnya menjalankan misi “pencerahan”, malah menjerumuskan pembacanya pada lingkar “kesesatan”.


Judul Buku : Bumi Manusia
Penulis : Pramoedya Ananta toer
Penerbit : Hasta Mitra, Jakarta
Tahun Terbit : Cetakan Kesembilan, Oktober 2002

Novel Bumi Manusia; Pencarian atas Identitas Manusia

Orang memanggil aku: Minke (baca: Mingke). Begitulah paragraf pembuka buku pertama, dari tetralogi karya Pramoedya Ananta Toer yang berjudul Bumi Manusia. Novel yang sempat dilarang terbit oleh penguasa orde baru ini, tidaklah asing di telinga kita, manusia Indonesia, juga dunia. Meski dilarang terbit di negaranya sendiri, ternyata Bumi Manusia beserta sisa dari seri tetralogi, diterjemahkan dalam beberapa bahasa di pelbagai negara. Ironisnya, negara lahirnya “Bumi Manusia”, merupakan negara terakhir yang bebas dalam mengapresiasikannya.

Minke adalah seorang pribumi sekaligus murid HBS, yang diharapkan kelak akan menjadi pewaris tahta ayahandanya yang seorang Assisten Residen (Bupati). Namun pergolakan terjadi pada Minke, zaman telah berubah, kini bukan zamannya merangkak menyembah ranah feodalis. Kini, saatnya manusia menjadi manusia yang sebenar-benarnya, bebas menentukan pendapat. Kendati demikian, Minke masih kalah, ia harus tetap merunduk, menyembah ketika berhadapan dengan pembesar dari Jawa, meski perasaannya selalu memberontak.

Masuknya budaya-budaya Kolonialisme di Hindia Belanda, membuat budaya-budaya kita termarginalkan, akibatnya budaya kita diangap rendah, tidak beradap, kalah terhormat jika dibandingkan budaya barat. Disinilah kemudian pencarian jati diri atas seorang murid HBS, Minke, yang lama hidup dalam lingkungan Belanda. Ia terjebak dalam budaya dan pemikiran barat yang terbuka, akhirnya ia menghinakan budayanya sendiri. Dengan berbudaya Eropa ia berangapan telah menjadi seorang eropa.

Pergulatan idiologi pada tokoh problematik di novel Bumi Manusia merupakan satu loncatan baru di zamannya, atas lahirnya rasio dan pemikiran-pemikiran mengenai wacana demokrasi. Tokoh protagonis lainnya, yang juga dihadapkan pada masalah dilematis seperti Minke adalah Nyai Ontosoroh serta putrinya Annelies. Namun, berbeda dengan Minke, Nyai Ontosoroh telah mengambil sikap dengan menganggap dirinya seorang pribumi. Bahkan ia tak malu orang menyebut dirinya seorang Nyai, seorang pribumi yang dimata bangsa Eropa sangat hina. Begitu pula dengan Annelies, ia telah membulatkan tekat seperti mamanya, untuk menjadi seorang pribumi.

Darah pribumi Minke tiba-tiba menggelora, tatkala hukum-hukum Hindia Belanda tak lagi memihak kaum pribumi. Pribumi makin tersingkirkan, makin menderita. Dorongan oleh teman-temannya, terutama Jean Marais, Ibundanya, Annelies kekasihnya, serta Nyai Ontosoroh, membuatnya semakin menggenal bumi manusianya, Hindia Belanda. Melalui tulisan-tulisan yang ia kirim ke surat kabar, ia selalu menggugat ketidakadilan yang dilakukan kaum Kolonial.
Meski telah menemukan jati dirinya, Minke tetap menolak untuk menjadi “raja kecil” mengantikan ayahandanya. Budaya feodalis sama menindasnya dengan kolonial, menurut Minke, di “bumi manusia”, manusianya berhak mendapat keadilan, baik kedudukannya sebagai raja atau rakyat jelata.


Judul Buku : Arus Balik
Penulis : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Hasta Mitra, Jakarta
Tahun Terbit : 1995

Memaknai Kembali Nasionalisme Bangsa Kita yang Teralpa

Dalam novel Arus Balik, pesan tersirat tokoh Wiranggaleng sebenarnya adalah; mengajak kita untuk kembali memiliki watak pesisir, yang senantiasa dahaga akan asinnya banyu samudera, menyadarkan kita, bahwa, bumi kita sebenarnya adalah lautan bukan daratan Jawa semata. Semangat bahari pada tokoh Wiranggaleng, sebenarnya tidak jauh beda dengan pandangan kolektif penggarangnya, Pramoedya Ananta Toer. Pramoedya tiap ada kesempatan, selalu mengajak kita untuk memaknai kembali Nasionalisme kita yang teralpa.

Setelah mendengar petuah-petuah dan cerita dari Rama Cluring, dan melihat sendiri kegagahan Raden Pati Unus dalam menghalau Perangi (Portugis), Wiranggaleng kemudian menjadi sadar. Bumi bangsa kita bukan hanya daratan saja, melainkan juga samudera yang mengelilinginya. Jika dibandingkan dengan luas lautan, daratan kita bukan apa-apa. Wiranggaleng bersama kekasihnya Idayu, akhirnya memilih untuk menetap di pesisir Tuban dan untuk ikut serta mempertahankan tanah Tuban dari Portugis.

Suatu ketika, Wiranggaleng beserta pasukannya membantu pasukan Pati Unus untuk merebut Malaka dari tangan portugis, namun upaya yang mereka lakukan gagal. Bahkan portugis berhasil mengekspansi kerajaan-kerajaan kecil di tanah Jawa. Portugis berhasil menguasai mereka, karena melihat kerajaan-kerajaan di Jawa terjebak dalam nasionalisme sempit, lebih mementingkan angkatan darat dan saling berebut tanah kekuasaan.

Jika saja Pati Unus tidak digantikan saudaranya Sultan Trenggono, mungkin kekuatan angkatan laut dalam mempertahankan kerajaan-kerajaan di Jawa akan lebih kuat. Pati Unus memang mencita-citakan agar kita bersatu, seperti halnya Patih Gajah Mada, karena dengan semangat Nasionalisme kita bisa mengalahkan Portugis saat itu.

Membaca Arus Balik, berarti juga melihat bayangan bangsa kita sendiri. Sekarang Nasionalisme mulai luntur dan digantikan Nasionalisme-nasionalisme daerah yang hanya mementingkan pribadi semata. Dulu, nenek moyang kita adalah para pelaut yang hebat, memiliki rasa Nasionalisme yang tinggi untuk mempertahankan keseluruhan tanah Ibu Pertiwi kita. Mereka sadar, ancaman para ekspansionaris dari laut, lebih berbahaya dan penting, dari sekedar berperang untuk merebutkan tanah kekuasaan.
Baca Selengkapnya...

Selasa, 2008 Agustus 12

Filsafat, Seks dan Karya Sastra


Menurut Budi Darma, perkembangan sastra dalam negara kita adalah perkembangan yang akhirnya akan mengkristal, pada hakekatnya pengertian sastra mutakhir adalah nisbi. Budi Darma mengemukakan hal demikian karena melihat sejarah perkembangan sastra di Indonsia, masihlah belum panjang. Jarak ini makin tidak jelas karena pengarang yang sanggup bertahan dalam proses kristalisasi tersebut tidaklah banyak. Misalkan saja: Sutan Takdir Alisyahbana mulai menulis pada tahun 1930-an, Mochtar Lubis pada akhir dekade 1940-an, dan tetap tegak. Sementara Iwan Simatupang menulis sekitar tahun 1960-an, namun karyanya tetap hidup kendati Iwan sendiri telah meninggal pada era tahun 1970-an. Novel yang masih bernafas sampai sekarang, misalnya Atheis (1949) karya Achdiat K. Mihardja. Perkembangan sastra mutakhir tidak mungkin semata dibatasi oleh waktu, khususnya untuk sastra yang benar-benar ampuh. Meskipun demikian sastra mutakhir akan menjadi sebuah ancang-ancang bagi sastra di masa depan.


Banyak hal yang juga menjadi unsur untuk membangun karya sastra. Pada zaman Balai Pustaka, tidak akan ada label Balai Pustaka apabila tidak adanya keputusan politis yang diberikan Pemerintahan Hindia Belanda mengenai penerbit Balai Pustaka. Sastra Pujangga Baru pun juga tidak akan ada, apabila Indonesia waktu itu sudah merdeka. Pada saat sekarang sudah mulai muncul kembali gejala-gejala yang mempunyai implikasi terhadap karya sastra, dan membentuk sastra indonesia Mutakhir. Banyak hal yang menjadi menyangkut gejala-gejala itu, filsafat, kerinduan arkitipal dan sufhistifikasi.

Kadang-kadang filsafat dan sastra menjadi satu unsur yang saling mempengaruhi. Filsafat dapat diucapkan lewat sastra, sementara sastra itu sendiri sekaligus dapat bertindak sebagai filsafat. Dalam perkembangan karya sastra sendiri dari zaman Balai Pustaka sampai sekarang, pemakaian filsafat dalam karya sastra berbeda-beda. Hal ini disebabkan karena perbedaan lingkungan sosialnya dan perkembangan zaman.

Kita tahu sebelum pecah perang dunia ke-II, gaung filsafat dalam karya sastra masih sangat kurang. Namun setelah tahun 1960-an, riak-riak Eksistensialisme dan Absurdisme menjamur memenuhi novel-novel Iwan Simatupang, bahkan sampai sekarang, gema filsafat dalam karya sastra masih ada dan akan terus terasa.

Terpengaruh dari pengarang-pengarang filsafat, Albert Camus dan Jean Paul-Sartre pasca perang dunia ke-II. Para sastrawan di Indonesia mulai menggali eksistensialisme yang ada dalam dirinya. Salah satu unsur penting dalam eksistensialisme adalah filsafat ketakutan seperti yang ditunjukkan oleh Mochtar Lubis dalam novelnya yang berjudul Jalan Tak Ada Ujung (1952). Eksplorasi tentang ketakutan, tentang hakekat ketakutan, mewarnai karya-karyanya. Walau dalam novel ini Mochtar Lubis mengutip kata-kata dari Jules Romantis, mengenai makna akan ketakutan. Mochtar Lubis tetap dijadikan pioner dalam filsafat sastra di Indonesia.

Muncul kemudian yang namanya allienisme dan absurditas. Allienisme merupakan perasaan kesendirian yang tiba-tiba muncul dalam diri seseorang ketika orang itu berada di keramaian. Hubungan dengan tetangga dan yang tidak begitu akrab karena sibuk pada pekerjaan atau pikiran masing-masing juga merupakan pengejawantahannya. Contoh novel yang terdapat unsur Allienisme adalah novel-novel milik Iwan Simatupang, Putu Wijaya, Kuntowijoyo dan lain-lain.

Absurdisme juga dianggap sebagai simpul eksistensialisme. Pada hakekatnya pengertian dari absurdisme adalah betapa tidak “bermaknanya” kehidupan kita. Landasan pemikiran tentang wacana absurdisme yang dikemukakan pertama kali oleh Albert Camus adalah sebuah mitologi Yunani kuno tentang Sisipus. Pada saat mendorong batu ke atas Sisipus merasa bahagia karena menggangap kehidupannya kini bermakna. Setelah sampai puncak bukit dan kemudian mengelinding kembali ke bawah, dia mendorongnya kembali keatas bukit. Demikianlah pekerjaan Sisipus terus menerus, sama halnya perjalanan kita.

Perkembangan sastra pun menjadi bermacam-macam, antara lain berbentuk karya sastra anti logika, anti plot, anti perwatakan dan lain sebagainya. Absurdisme dalam karya sastra dapat kita temukan pada karya Iwan Simatupang, Putu Wijaya, Kuntowijoyo, Danarto, Yulius Sriaranamual. Absurdisme makin menjadi mantap tatkala, kita sering melihat kesemrawutan dalam realitas kehidupan kita.

Awal Millenium, muncul novel-novel yang juga menganut aliran seperti ini. Supernova karya Dewi Lestari; Larung, Saman milik Ayu Utami. Ke-absurd-an penceritaan dan plot yang meloncat-loncat menjadikan karya-karya mereka mampu menambah khasanah kesastraan di Indonesia.

Gunawan Mohamad berpendapat mengenai muatan seks dalam karya sastra; ada tiga sikap dalam karya sastra Indonesia tehadap persoalan seks dan penggambaran seks. Pertama, karya-karya yang berusaha mempersoalkan seks tetapi tidak berani menggambarkannya, karya-karya yang dalam istilah Harry Aveling memperlakukan persoalan seks itu sebagai ”mawar berduri.” Kedua, karya-karya yang mempersoalkan seks dan menggambarkannya dengan cara ”meneriakkannya dengan keras-keras.” Karya-karya yang demikianlah yang mungkin digolongkan sebagai karya-karya ”pornografis”, yang menggambarkan peristiwa erotis secara eksplisit. Ketiga, karya-karya yang mempersoalkan seks sebagai bagian dari kehidupan manusia yang wajar dan menggambarkannya secara wajar pula, antara lain seperti yang tersirat dalam cerpen-cerpen awal Umar Kayam dan puisi-puisi Sitor Situmorang.

Sejarah mencatat bahwa kontroversi atas terbitnya sebuah karya sastra lebih sering karena faktor ketidak siapan masyarakat bersangkutan (sebagai pembaca) atau birokrat (Penguasa Politis, Spiritual, Moral) dalam menghadapi ekspresi individu yang bertentangan dengan tata nilai kolektif. Seabad silam ketika Gustava Flaubert di Prancis menerbitkan sebuah buku yang berjudul Madame Bovary, banyak orang tersentak karena karya sastra itu dengan terbuka menyerang Hipokrisi kelakuan seks kaum elite masyarakatnya. Dalam novel itu bercerita tentang perselingkuhan istri lelaki terhormat Emma Bovary yang justru menemukan kebahagiaan di luar pernikahannya dengan berselingkuh dengan tukang kebun suaminya. Merupakan sebuah tamparan telak bagi sebuah konstruksi mapan dan tak menghendaki kritikan. Itu pula yang terjadi di sini dengan belenggu karya Armijn Pane (1940), yang kemudian menjadi perdebatan diantara para penelaah sastra.

Merunut sejarah munculnya karya sastra yang bermuatan seks, adalah ketika pada ujung 1960-an hingga awal 1970-an terjadi revolusi seks di Amerika Serikat sebagai reaksi atas perang yang terus dikobarkan di mana-mana (Korea, Vietnam) oleh generasi tua mereka yang berpandangan patriarkis, di mana keterbukaan seks menjadi senjata kaum muda untuk memberontak dan rasa takut pada maut (“Make love, not war!”), sejumlah nama sastrawan-sastrawan muncul sebagai ikon.

Salah satunya, Anais Nin (1903-1977) seorang perempuan keturunan Prancis yang punya talenta tinggi dalam menggarap novel dan cerpen dengan muatan seksualitas secara ekplisit. Di ujung usianya namanya dikukuhkan menjadi ikon feminis dan penulis garda depan di negerinya seiring pergerakan zaman. Dalam pengantar kumpulan buku kumpulan cerita erotisnya, Delta of Venus: Erotica (1969), Nin berpendapat bahwa yang dilakukannya adalah mencoba menulis kan aspek seksualitas perempuan dari sudut pandang dan penghayatan perempuan sendiri, bukan seksualitas perempuan dari kacamata lelaki. Dari kacamata inilah kemudian Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu, dan Herlinatiens memuat seks pada karya-karya mereka. Mungkin bukan hanya sekadar seks yang mereka coba vokalkan, melainkan juga unsur politis, terutama kebijakan pemerintahan yang masih menganut militerisme dan segala kekuasaan patriarkis. Dengan ke-absurd-an penceritaan tentunya.

Mungkin pada zaman Balai Pustaka saat itu kesemrawutan ada pada unsur instrinsiknya masih belum sepenuhnya terjadi. Pada masa itu alur, perwatakan dan logika penceritaan masih bisa kita nalar dan mengalir secara linier, hingga memudahkan kita dalam mengikuti cerita. Ini bisa kita lihat pada novel-novel Azab dan Sengsara karangan Merari Siregar (1920), Siti Nurbaya karangan Marah Rusli (1922) dan Salah Asuhan karangan Abdul Muis (1928). Pemuatan unsur seks pun belum merebak, karena pada zaman itu pengaruh feodalisme masih kuat mengakar di masyarakat.

Ada sebuah hal baru juga yang mengebrak dalam penciptaan karya sastra pada awal lahirnya Balai Pustaka. Yaitu, sebuah pengembanggan baru tentang wawasan penciptaan karya sastra oleh Merari Siregar dalam novelnya Azab dan Sengsara. Dalam novel itu tidak lagi terikat dengan sastra lama. Ini bisa dilihat dengan settingnya yang keluar dari main stream istana sentris, mulai meninggalkan wacana hikayat, tokohnya merefleksikan keangkuhan dari lingkungan rakyat, temanya adalah perjuangan manusia sehari-hari bukan lagi realitas dongeng.

Pada awal masa Pujangga Baru tahun 1930-an. Pengembangan unsur-unsur intrinsik masih belum berbeda jauh dengan Balai Pustaka. Walaupun begitu, Belenggu karya Armijn Pane merupakan revolusi terhadap novel-novel yang dibarui oleh Azab dan Sengsara, Siti Nurbaya atas individualisme yang memenuhi kriteria estetik dalam karya itu.

Pada tahun 1950-an terjadi perpecahan dalam hal pemikiran mengenai karya sastra. Pemikiran antara sastra Humanis Universal diwakili oleh kelompok Manifes Kebudayaan dengan sastra Proletar (Realisme Sosialis) diwakili Lekra. Manifes Kebudayaan mengginginkan untuk dapat disandingkan dengan Manifesto Politik Republik Indonesia. Namun hal ini ditolak oleh Bung Karno, karena Manifesto Politik Republik Indonesia sebagai pancaran Pancasila tidak mungkin didampingi dengan manifesto-manifesto lain, apalagi kalau manifesto itu sudah menunjukkan sikap apatis terhadap revolusi dan memberi kesan berdiri sendiri.

Pada bangsa yang heterogen, kita seperti berpijak pada dua dunia yang saling berhubungan, dan tidak mungkin kita pisahkan-pisahkan—sub-kebudayaan kita masing-masing di lain pihak kebudayaan bangsa Indonesia seluruhnya. Baik sadar atau tidak sadar, kita sering dihadapkan pada kerinduan kita akan makna arkitipal, rindu akan sub kebudayaan yang telah melahirkan, membesarkan dan mendoktrin hidup kita masing-masing. Linus Suryadi A.G, Y.B Mangunwijaya, Umar Kayam, Ahmad Tohari, Darmanto Yatman dan lain-lain pada tahun 1970 sampai dengan tahun 1980, dalam kerinduan arkitipalnya masing-masing telah menggali kebudayaan Jawa dalam karya-karyanya.

Polarisasi masyarakat Indonesia juga akan mempengaruhi sastra. Warna lokal akan tumbuh sejalan dengan makin terasanya polarisasi. Apakah nantinya karya sastra semacam ini akan dimasukkan dalam dalam sastra nasional atau daerah yang berbahasakan Nasional, tentunya tergantung pada pada mutu karya sastra itu sendiri.

Tumbuh suburnya sastra sufi akhir-akhir ini, seperti misal sastra transendental, juga merupakan pengejawantahan kerinduan akan arkitipal. Namun juga terdapat misi tersembunyi bagi sebagian pengarangnya, yaitu sebagai penyeimbang karya-karya sastra yang sarat akan muatan seks yang kemudian dianggap tabu oleh sebagian orang. Sekaligus sebagai solusi dekadensi moral yang semakin semrawut di Indonesia. Taufik Ismail dan Danarto, yang masih aktif berjuang di jalan ini, mengharapkan kelak negerinya akan terkurangi dari polusi kemerosotan akhlak dan membangun kembali nilai luhur budaya masyarakat yang sekarang mulai runtuh.
Baca Selengkapnya...

Jumat, 2008 Agustus 08

Eka Budianta, Puisi dan Pengkhotbah Kiamat

Menjadi penyair berarti tidak tinggal diam, melainkan ikut terlibat dalam menyelesaikan masalah di masyarakat, merasakannya, berpikir bersama, untuk dan tentang masyarakat."

Perkataan itu diucapkan oleh seorang penyair sekaligus pemerhati lingkungan dan sosial, dialah Eka Budianta. Eka adalah sosok yang tak pernah bisa tinggal diam melihat perubahan alam di negaranya yang semakin tak terkendali, hal ini menurutnya, terjadi karena kesadaran sosial masyarakatnya yang kurang ikut berpartisipasi dalam menjaga dan melestarikan lingkungan sekitar.

Eka Budianta lahir di Ngimbang, Jawa Timur, 1 Februari 1956. Eka merupakan penyair, penulis cerpen, penulis esai tentang sosial budaya, serta aktivis sosial dan lingkungan. Mengawali karirnya di dunia tulis menulis ketika menjadi wartawan Tempo, harian Jepang Yomiuri, dan Radio BBC World Service di Inggris. Eka juga telah lulus Program Lingkungan dan Pembangunan (Leadership for Environment and Development) dengan kerja lapangan di Costa Rica, Amerika Tengah (1995), Ikonawa, Jepang (1996) dan Zimbabwe (1997).

Ketika menjadi Direktur Eksekutif Dana Mitra Lingkungan (1994-1998), ia berperan besar bagi pendalaman bersama perspektif ‘lingkungan berkelanjutan’ pada jaringan LSM dan kalangan industriawan Indonesia. Sejak tahun 1999 ia menjabat menjadi direktur urusan sosial untuk PT Tirta Investama, induk perusahaan air mineral Aqua-Danone, salah satu kegiatannya adalah mengembangkan taman konservasi untuk industri berbasis sumber alam. Disamping sibuk sebagai penceramah dan menangani isu-isu seputar sosial dan lingkungan, ia tetap berkarya, paling tidak sudah dua-ribuan karyanya (puisi, cerita pendek, esai, laporan perjalanan) selama 25 tahun terakhir masa berkaryanya.

Namanya mulai menonjol dalam dunia sastra, ketika pada tahun 1978 tampil sebagai peserta forum puisi ASEAN, bersama sekitar 50 penyair terkemuka dari negara-negara anggota ASEAN. Dalam acara tersebut ia adalah peserta paling muda, meskipun sudah menelorkan 3 buku kumpulan puisi.

Eka memang dikenal sebagai penyair. Pada 1979 ia memimpin delegasi Indonesia ke pesta Puisi dan Akademi di Universitas Malaya, Kuala Lumpur. Sedangkan pada tahun 1983 ia mengikuti persidangan para pengarang Asia Tenggara di Baguio, Filipina. Karena prestasinya yang demikian cemerlang, Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) memberikan penghargaan khusus untuk kumpulan puisinya yang berjudul Sejuta Milyar Satu, 1984.

Nasib cerita pendek Eka, pun mengkilap seperti puisi-puisinya. Pada tahun 1987, Eka pernah diundang untuk mengikuti International Writing Program di Lowa, Amerika Serikat. Cerita-cerita pendeknya juga mengisi antologi dalam Dua Cerpen-zwei Kurzgeschicten, dalam edisi bahasa Indonesia dan Jerman (Goethe Institut, 1986). Juga dalam Antologi Cerita Pendek Indonesia suntingan Satyagraha Hoerip (Gramedia, 1986). Kumpulan cerpen tunggal yang berjudul Api Rindu (1987) diterbitkan oleh Pustaka Maria, Jakarta. Kumpulan cerpennya yang lain yaitu Taman Seberang (2002) di terbitkan oleh Jendela, Yogyakarta.

Karena dedikasinya menyuarakan aspirasi masyarakat, terutama lingkungan dan sosial masyarakat bawah melalui sajak maupun cerpen-cerpennya, ia menerima penghargaan dari ASHOKA Foundation. ASHOKA Foundation merupakan sebuah lembaga International yang memperhatikan pengabdi masyarakat di negara-negara yang sedang berkembang seperti India, Indonesia, Brazil, dan sebagainya.


Dari Kearifan Tradisional sampai Karya Sastra

Wacana melestarikan alam dan anjuran untuk memelihara lingkungan, mungkin sudah sama tuanya dengan umur manusia. Tetapi ilmu yang meneliti, mengkaji dan mengembangkan daya dukung lingkungan hidup dirasa baru muncul setelah 1960-an, pasca revolusi industri dan perang dunia ke-2. Dimana dunia saat itu mengalami kiamat kecil karena berebagai bencana datang bertubi-tubi seperti kabut industri di Inggris dan pencemaran mercuri di Minamata Jepang, serta makin luasnya kebocoran ozon akibat efek rumah kaca dan pemanasan global.

Para Doomsday Preacher (pengkotbah hari kiamat) yang muncul, berceramah tentang implikasi yang timbul apabila kita alpa menjaga lingkungan, telah memberikan angin segar bagi pemerhati lingkungan hidup. Masyarakat mulai sadar dan beranjak meninggalkan sifat nekrofilis mereka. Teori ini serupa dengan model penggalangan agama dan penjualan polis asuransi. Kita berasumsi, bila orang berhasil dibuat merasa takut, ngeri, dan seram, bisa jadi berpaling ke “jalan yang benar” yaitu meninggalkan praktik-praktik buruk yang selama ini telah menggiringnya ke dalam bahaya, atau mungkin juga ke “neraka”.

Hal itu ternyata cukup efektif dalam menggerakkan massa untuk ikut berpartisipasi atau menanggapi tiap wacana tentang lingkungan yang tengah marak. Menurut Eka, perihal penyuluhan lingkungan hidup seperti itu, yang dipenuhi oleh berbagai rambu, atau neraka-neraka baru, dapat membuat masyarakat kembali sadar akan pentingnya paradigma baru, cara berpikir dan cara hidup yang lebih berkelanjutan.

Selain menakuti-nakuti manusia dengan akibat buruk atas perbuatannya terhadap alam, para Doomsday Preacher juga mengenalkan hidup lestari atau resep hidup seperti yang diwariskan secara turun-temurun oleh nenek moyang. Kita bisa melihatnya pada kelompok-kelompok kecil seperti suku Baduy (sekarang sekitar 5000 jiwa di Banten Selatan), yang selama ini telah menjaga hutan dan pelestarian sumber air. Kelompok ini ternyata memiliki gaya hidup yang selaras dengan alam. Demikian dengan masyarakat Tengger di Jawa Timur, Dayak di Kalimantan, Talangmanak di Jambi atau “upacara sasi”, ritual pelestarian laut di Maluku dan Papua. (Yayasan Sahabat Aqua)

Berangkat dari ide seperti itulah kemudian Eka merefleksikannya pada karya sastranya. Membaca puisi-puisi maupun cerpen-cerpennya, seperti melihat pemantik, yang akan membakar sifat Nekrofilis dan memunculkan sifat Biofis manusia, yang saat ini terpuruk oleh derap pembangunan dan industri. Dalam karya-karya Eka, jika kita perhatikan seksama, banyak sekali mengandung kearifan tradisional (baca: lokal).

Sengaja Eka mengangkat kearifan tradisional, karena ia percaya, bahwa; “dongeng” yang dibawa turun-temurun untuk berlaku arif pada lingkungan, ternyata cukup ampuh dalam mempengaruhi psikologi penduduk lokal untuk benar-benar mencintai lingkungan.

Pengembangan masyarakat lokal yang kuat lewat ajaran atau kepercayaan untuk mencinta alam, ternyata memiliki pengaruh yang besar dan hampir mutlak menjadi prasayarat untuk semua kalangan yang bercita-cita menanamkan dan mengembangkan kesadaran lingkungan. Eka juga telah mengagas sebuah ide untuk memberikan pemahaman psikologi sosial dalam kaitannya dengan lingkungan hidup. Menurutnya, hal ini mampu memperbaiki kondisi fisik, ekonomi dan spiritual manusia untuk menjaga dan menjadi konservator bagi sumber-sumber alam.


Refleksi Karya-karya Eka Budianta

....
Dari jendela ini aku memandang dunia
Dari jendela ini aku mengenal hidup
Dari jendela ini aku mendapat berkah
Dari jendela ini aku bicara untuk seluruh bumi
....

(Jendela Kecil di Pegunungan, Eka Budianta)

Salah satu sajak Eka ini, merupakan upaya dia mengajak masyarakat untuk ikut serta dalam merawat bumi. Menurutnya, bicara untuk bumi, berarti bicara untuk diri sendiri. Perawatan bumi sudah diromantisir, juga telah menjadi komoditi politik, ucapnya. Tetapi sebenarnya tujuan perawatan bumi sama seperti merawat rumah kita, yaitu agar kita dapat hidup sehat dan nyaman. Jadi merawat bumi, juga menjadi kepentingan kita sendiri.

Puisi-puisi Eka Budianta memang tak pernah lepas dari isu sosial serta lingkungan di masyarakat. Konsepnya untuk memasukkan isu sosial dan lingkungan sangat jelas, yaitu ingin memperjuangkan perubahan masyarakat yang plural, toleran dan mencintai identitasnya sebagai masyarakat yang kental budaya ke[timur]an. Ia sering mengadakan lokakarya dan bimbingan mengarang. Misalnya di kalangan Komunitas Sastra Indonesia dan pelatihan jurnalisme lingkungan di berbagai daerah, selain juga aktif memberi ceramah mengenai dampak kerusakan lingkungan di berbagai LSM dan masyarakat.

Kegelisahannya terhadap kerusakan lingkungan, banyak terefleksi di sebagian karya-karyanya, salah satunya adalah puisi yang berjudul Jendela Kecil di Pegunungan di atas. Rasa pesimisme yang tiba-tiba menyergapnya, ketika memandang bangsanya menjadi kapitalistik dan lupa akan identitas diri, kadang mewarnai puisi-puisinya. Seperti dalam puisinya yang berjudul Sejak Kapan Dunia?, dalam kumpulan puisinya Sejuta Milyar Satu:

....
100 peluru kendali MX, 5 kapal induk dan 84 kapal selam nuklir.
Semuanya membidik tepat ke jantungku.

Menjadi sastrawan, bukan berarti tidak diperkenankan terjun langsung ke lapangan, memberi penyuluhan atau ceramah yang jelas hasilnya lebih nyata ketimbang harus menyepi di kamar dan membolak-balikkan halaman buku, mencatat materi untuk sajak-sajaknya. Eka Budianta yang sekarang sudah berkehidupan mapan, sangat berang ketika mendengar pendapat Arif Budiman (Soe Hok-Djin) yang pernah menjadi pilar bagi majalah Horison, mengatakan; mustahil penyair yang sudah mapan, berada di ruangan ber-AC, tertarik pada pada isu kerakyatan dan mau terjun langsung ke lapangan.

Maraknya industri di negara kita yang ditunggangi para kapitalism, membuat Eka mau tak mau harus berjuang kembali untuk membendung arus yang berimplikasi buruk bagi negaranya. Sajak-sajaknya yang selama ini telah menjadi alat, sepertinya tak lagi mempan melunakkan moral masyarakat yang terlanjur bebal.

Simak baik-baik puisi Eka yang menunjukkan bahwa pusara kapitalistik telah menenggelamkan negaranya, bahkan telah memperkosa lingkungannya.


Bulan dan traktor bersatu di ladang
Malam-malam begini, komputer & cengkerik
Sama-sama menyanyikan rindu padamu
Lalu kamu, sedang apa sahabatku?
Di Tiom, bersama komputer & traktor
Kubayangkan engkau sedang mengolah Indonesia
Sementara di eskalator ini aku berdiri
Menatap masa depan dan masa lalu
Yang tiba-tiba berkumpul jadi hari ini

.....

(Nyanyian Untuk Tiom, Eka Budianta)

Wanti-wanti Eka untuk tidak melupakan identitas asli kita, tertuang pada cerpennya yang berjudul Taman Seberang. Di situ dikisahkan tentang seorang anak yang bernama Kristono. Kakek Kristono selalu bercerita kepadanya tentang mitos apabila ada seorang yang menyebrangi sungai di dalam hutan larangan, maka orang itu akan berubah menjadi babi.

Cerita itu merupakan sebuah mitos yang dipercaya penduduk desa dan kakek Kristono, karena mitos itu pulalah sumber mata air dan hutan di desa Krostono terjaga. Seperti yang dikatakan Ibunya Kristono; “itu hanya cerita supaya orang-orang tidak mengotori mata air dan merusak hutan larangan.” (Taman Seberang)

Sebenarnya bukan itu yang menjadi angle Eka Budianta dalam menyoroti ceritanya. Namun, dimana ketika Kristotono beranjak dewasa dan pergi keluar negeri untuk melanjutkan studinya, dia merasa dia telah memasuki hutan larangan dan telah mengotori sungai-sungainya. Kristono telah menjadi binatang jelmaan ketika bertemu dengan keluarganya dan teman-temannya.

Astaga, apakah aku sudah menjadi seekor babi hutan. Hatiku mulai berdebar-debar. Celaka aku, jangan-jangan cak Tambar tahu. (Taman Seberang)

Cerpen Taman Seberang secara garis besar, merupakan sebuah simbol yang tersiratkan dalam sebuah kearifan tradisional yang coba dilukis Eka Budianta. Dengan menjadi Doomsday Preacher dan terjun langsung ke tengah-tengah masyarakat, untuk bersama-sama menjaga lingkungan, Eka Budinta telah menjadi bukti, bahwa seorang sastrawan pun bisa turun ke lapangan merealisasikan gagasannya.

Baca Selengkapnya...

Kamis, 2008 Juli 31

Tak Sekadar Membayangkan Indonesia

(Renungan di bulan Agustus)

Untuk mempersatukan sebuah bangsa seperti Indonesia, kita dapat saja berpegang pada tesis masyur Benedict Anderson, “Sebuah bangsa dapat lahir ketika sejumlah anggota penting suatu komunitas membayangkan diri mereka membentuk sebuah bangsa”.

Namun untuk membuatnya eksis, tak cukup dengan itu. Diperlukan suatu entitas konstruktif yang dibangun secara sadar. Artinya, ketika kita berbicara tentang Indonesia, kita berbicara soal bangsa dengan arah kebudayaan yang jelas, konstruktif, dan dinamis. Itulah yang sejak tahun 1935 telah digulirkan Sutan Takdir Alisjahbana (STA) dalam esainya di majalah Poedjangga Baroe.

Dalam esai yang bertajuk Menuju Masyarakat dan Kebudayaan Baru tersebut, STA dengan berani menentang anggapan bahwa masyarakat Indonesia abad XX merupakan kelanjutan dari masyarakat sebelumnya. Ia secara tegas membagi dua kebudayaan Indonesia menjadi kebudayaan modern dan pra-Indonesia. Titik pisahnya adalah penutup abad XIX. “Zaman prae-Indonesia”, tulis Takdir, “hanya mengenal sejarah Oost Indische Compagnie, sejarah Mataram, sejarah Aceh, sejarah Banjarmasin dan lain-lain...jangan sekali-kali zaman Indonesia dianggap sambungan atau terusan yang biasa daripadanya.”

Esai yang ditulis STA saat baru berumur 27 tahun itu, secara frontal menyerukan pemutusan hubungan budaya dengan tradisi pra Indonesia yang diistilahkannya dengan ‘zaman jahiliyah keindonesiaan’. Ia dengan kencang menyerukan untuk berkiblat pada Barat. “Maka telah sepatutnya pula alat untuk menimbulkan masyarakat yang dinamis, teristimewa sekali kita cahari di negeri yang dinamis pula...seperti sekarang: Eropa, Amerika, Jepang,” tulisnya.

Muatan esai yang tak kepalangtanggung itupun lantas menuai perbantahan dan debat terbuka di berbagai seminar, majalah, dan harian. Beberapa surat kabar seperti Pujangga Baru, Suara Umum, Pewarta Deli, serta Wasita, memuatnya di tahun 1935-1936 dan 1939. Beberapa tokoh yang tampil mendebat Takdir di antaranya adalah Sanusi Pane, Dr. Poerbatjaraka, Dr. Sutomo, Ki Hadjar Dewantara, Dr. M. Amir, Adinegoro.

Kebanyakan dari mereka menyayangkan pandangan STA yang serta merta berkiblat pada Barat dan menganggap kebudayaan Timur sebagai penyebab kemandekan bangsa Indonesia saat itu.

Salah satu tokoh mumpuni yang menjadi lawan STA adalah Ki Hadjar Dewantara. Ia adalah anggota keluarga bangsawan Pakualaman Yogyakarta, sekaligus pendiri Taman Siswa, dan pernah hidup dalam pengasingan di Negeri Belanda dari tahun 1913 hingga 1919. Ia berpendirian bahwa Barat bukanlah musuh yang harus dienyahkan, sebab ‘percampuran’ tak harus dihindari. Namun, ia memiliki prasyarat mutlak: percampuran yang sungguh-sungguh dapat terjadi hanya jika orang Indonesia tetap memegang ‘kultur bangsa’.

Jauh sebelum polemik tersebut, pada 1929 Ki Hadjar telah menulis dalam majalah Wasita, “Kalau kita sudah membangkitkan pula hidup kebangsaan kita, tentulah alat-alat-alat penghidupan asing yang berfaedah sajalah yang kita ambil...akhirnya kita lalu dapat memilih dengan fikiran dan rasa yang jernih”.

Pendirian Ki Hadjar ini banyak menuai dukungan dari berbagai golongan pada masa itu. Tak kurang dari para anggota Partai Nasional Indonesia (PNI) pimpinan Soekarno yang mengagumi pendiriannya. Dengan dijiwai oleh petuah-petuahnya, mereka berjuang demi kembalinya nilai-nilai pribumi yang tengah sekarat diinjak Barat.

Perdebatan panjang yang terjadi di Batavia itu menjadi polemik pertama tentang identitas Indonesia sejak dikumandangkannya Sumpah Pemuda pada 1928. Takdir sendiri, diakui atau tidak, telah menjadi inspirator bagi sekelompok anak muda yang kelak menghasilkan Surat Kepercayaan Gelanggang yang diumumkan pada 1950.

Kalau Takdir pada 1935 menyatakan bahwa “pekerjaan Indonesia muda bukanlah resteureeren Borobudur dan Prambanan” maka dalam Surat Kepecayaan Gelanggang dikatakan “kalau kami berbicara tentang kebudayaan Indonesia, kami tidak ingat kepada me-laplap kebudayaan yang lama lagi”.

Adalah atas jasa Achdiat K. Mihardja yang kelak, pada tahun 1948, berhasil mengumpulkan dan menerbitkan artikel-artikel polemik tersebut dalam sebuah buku yang diberinya judul mentereng: Polemik Kerbudayaan. Sebuah judul yang kemudian selalu dirujukkan pada muatan dan jaman perdebatan itu.

Membandingkan tema dan metodenya, buku Sang Pujangga suntingan S. Abdul Karim Mashad dapat juga dipandang sebagai sebagai buku Polemik Kebudayaan jilid II. Mashad telah berhasil mengumpulkan dan menerbitkan serpihan artikel, esai, dan makalah dari berbagai event dan media yang sebagian besar berkisar pada angka tahun 1980-an hingga 2000-an.


Sang Pujangga
Menurut Mochtar Lubis yang menulis esai, STA, Manusia Indonesia Unggul, bahwa dengan mendobrak pasungan orde lama dan orde baru, negara kita akan bisa melahirkan generasi-generasi manusia unggulnya. Karena selama 20 tahun orde lama ditambah 25 tahun orde baru, keterbukaan masih menjadi hiasan bibir saja.

Kehadiran STA dengan membawa gagasan dan pikiran-pikiran yang revolusioner, menjadi angin segar bagi bangsa ini. Beliau senantiasa menyerukan agar jangan segan-segan belajar banyak hal baik itu, tekhnologi, sastra dari negara-negara maju. Ia juga tak penat-penatnya menginggatkan agar negara kita menerjemahkan sebanyak mungkin buku-buku asing.

Mochtar Lubis, juga menulis bahwa STA sebagai “manusia unggul” seringkali memanifestasi pemberdayaan masyarakat kita, untuk mengembangkan kemampuan dan kreatifitas sebesar mungkin. Bahkan, jika dalam segi perekonomian, Cina lebih unggul di negara kita, maka kalau perlu rakyat negara ini dicinakan saja.

Meski kerap bersikap frontal, tapi dibalik wajah keintelektualannya, kerasionalannya, ilmu dan kebudayawannya, STA pada dasarnya memiliki pribadi yang romantis. Hal ini tercermin dalam tulisan sastranya, dan mungkin karena sikapnya yang romantis ini, beliau menjadi manusia unggul sebenarnya—beliau meninggal dalam usia 81 tahun, diatas rata-rata masyarakat Indonesia yang hanya 50-60 tahun.

Kebanyakan orang menganggap, kalau pemikiran STA selalu bermuara ke pemikiran Barat. Asumsi inilah yang kemudian menimbulkan berbagai polemik kebudayaan yang berpanjangan diantara para intelektual, sastrawan dan para pendidik. Dalam esai lain, Sri Kusdiyantinah SB, dengan tegas menolak tuduhan itu semua.

Dalam konstruk pemahaman STA mengenai sintesis Barat dan Timur, adalah sama sekali tidak dapat diadakan. Dalam esai yang berjudul Benarkah Sepenuhnya, Sutan Takdir Alisjahbana (STA) Berpikir secara Barat?, penulis beranggapan hanya Tuhanlah Realitas Hakiki. Tapi, seluruh alam semesta beroperasi atas prinsip popularitas.

Menurut realitas yang ada, Allen Utke via Sri menyebutkan, “Immediate Reality and Meaning” (kenyataan dan makna hidup sesaat) dan “Ultimate Reality and Meaning” (kenyataan dan makna hidup hakiki), hendaknya berlaku seimbang.

STA menerima, bahwa dalam abad baru diadakan redifinisi realitas dalam sains: para ilmuwan mulai membicarakan realitas dengan kacamata. Realitas adalah segala sesuatu yang ada (Everithing that is reality). Termasuk hal-hal yang “belum atau dapat dijelaskan” (inexplicable things): kekuatan, proses, fenomena, yang belum atau tidak masuk akal, namun ada.

Perjuangan STA dalam menyelamatkan Indonesia dari kubangan paria, meski menimbulkan berbagai polemik karena harus mengubur nasionalisme. Jika melihat sejarah bangsa ini, sebenarnya kita sudah berkiblat dari bangsa luar: yaitu Hindu, kebudayaan Arab. Da sekarang ini, menurut STA tiba waktunya untuk melihat ke Barat.

Meski ucapan STA itu akan menimbulkan pertentangan-pertentangan yang luar biasa, meski bagaimana sekalipun sedih hati kita memikirkan hal yang demikian, dalam hal ini rasanya kita tidak dapat memilih.

Sebabnya semangat keindonesiaan yang menghidupkan kembali masyarakat bangsa yang berabad-abad selalu mati ini, pada hakekatnya selalu diperoleh dari Barat: Budi Utomo lahir seperempat abad yang lalu, mendapat didikan orang barat dan selalu bergaul denan orang-orang Barat jika ada rapat. Cara organisasi yang dipakaisebagai penggantipersatuan menurut keturunan dan tempat kediaman yang terdapat dalam zaman prae-Indonesia ialah organisasi Barat. Dan segala pergerakan kebangunan bangsa kita yang berupa organisasi.

Berderet nama besar para sastrawan, budayawan, sejarawan dan akademisi ditampilkannya. Dalam empat bab pembagiannya, Mashad membaginya dalam dua tema besar; bab I dan II berisi apresiasi terhadap pemikiran STA dalam bidang kebudayaan dan sastra, sedangkan bab III dan IV berisi tanggapan kritis terhadap kedua bidang pemikirannya itu.

Buku ini menjadi penting mengingat hingga sekarang pun kita masih bingung merumuskan arah kebudayaan kita. Ia seyogyanya tidak mengundang polemik lebih lanjut, namun dapat menjadi salah satu pijakan guna merumuskan apa yang oleh Taufik Abdullah diistilahkan sebagai ‘strategi yang jelas’ dalam ‘semboyan yang tegas’ untuk mencapai cita-cita kebudayaan Indonesia.

Baca Selengkapnya...

Rabu, 2008 Juli 30

Sastra Ekologi-Sastra untuk Bumi

Krisis lingkungan di bumi terus berlangsung, tanpa ada solusi yang tepat untuk menghentikannya. Dalam tingkatan global—manusia sebagai penguasa piramida makanan—menjadi tertuduh utama atas kerusakan lingkungan. Jalan satu-satunya untuk menghentikan kerusakan lingkungan yang lebih parah, adalah “memangkas” puncak piramida makanan itu sendiri.


Para pemerhati lingkungan menjadikan kerusakan ekologi sebagai pekerjaan rumah yang tak kunjung usai. Berbagai solusi yang berangkat dari ribuan teori yang kemudian diaplikasikan terhadap berbagai kasus masih belum menunjukkan hasil yang maksimal. Semua nihil belaka!

Keterpurukan demi keterpurukan inilah yang akhirnya berhasil memobilisasi beberapa manusia kembali sadar akan pentingnya alam, berjuang menghijaukan kembali wajah bumi yang terlanjur hangus. Mereka inilah yang tergabung dalam komunitas pecinta alam, yang mencoba membangun dengan kekuatan kognitif orang-orang untuk mengembalikan sikap peduli mereka terhadap alam.

Selain munculnya gerakan-gerakan pecinta alam di dalam negeri, maupun berskala mem”bumi”, baik yang penuh kompromis atau yang telah sampai pada fase radikal, muncul pula sastrawan-sastrawan tanah air kita yang mengejawantahkan fenomena ekologi ke dalam karya-karyanya. Sebut saja Korie Layun Rampan, Mochtar Lubis atau Hanna Rambe, yang sengaja menjamah ranah ekologi karena melihat penyakit “bumi” telah sampai babak kritis.

Seperti yang dikatakan Korie Layun Rampan, pada kata penghantarnya di kumpulan cerpen, Acuh tak Acuh, “banyak kebijakan penguasa yang akhirnya membawa dampak buruk terhadap lingkungan. Berbagai pengrusakan dan penghancuran lingkungan pada zaman lampau, membawa akibat yang panjang pada kehidupan masa kini.”

Secara umum, cerpen-cerpen Korie yang juga menjadi salah satu garda depan dalam mensosialisasikan sastra jurnalistik, selalu mempertanyakan eksistensi manusia dalam hubungannya dengan lingkungan. Mengangkat cerita yang ringan, namun kedalaman kajian-kajiannya tetap dipertahankan. Lihat saja judul-judul cerpen Korie yang minimalis, tapi selalu sarat pembelajaran moralitas untuk menjaga keutuhan alam. Misalkan Penyu, Lada, Bunaken, Patin dan lain sebagainya, yang ada dalam kumpulan cerpennya; Acuh Tak Acuh.

Kendati berjuang menghijaukan kembali bumi, yang terlanjur tenggelam oleh berbagai permasalahan tanpa satu pun yang kelar melalui sebuah karya sastra. Korie Layun Rampan, selaku tuhan dalam cerita-ceritanya, kerapkali tanpa sadar menempatkan tokohnya pada antroposentrisme ekologi. Faham ini tidaklah arif jika diaplikasikan untuk mengajak manusia dalam melestarikan alam. Faham yang masih satu kandung dengan Positivisme ini, selalu menganggap peran manusia sebagai yang terpenting dan paling punya kuasa atas bumi, implikasinya kemudian hanya akan menimbulkan egoisme dalam manusia.

Pandangan kolektif Korie pada setiap cerpen-cerpennya, selalu ia sembunyikan pada tokoh “aku” yang memiliki profesi sebagai wartawan. Dari tokoh “aku” inilah, kemudian ia memaparkan penglihatannya tentang ekologi-ekologi bangsa kita, yang tengah berada pada situasi memprihatinkan. Korie Layun Rampan, dalam tokohnya “aku” seakan merefleksikan kejahatan-kejahatan lingkungan yang tengah dilakukan para birokrasi untuk mempertebal keuntungan pribadinya.

Membaca cerpen-cerpen Korie, berarti pula melihat kekayaan ekologi bangsa kita yang sunguh menakjubkan. Dalam setiap cerpennya, Korie sengaja mengetengahkan kekayaan ekologi, untuk dijadikan ensiklopedi kecil tentang kekayaan alam bangsa kita, selain sebagai peringatan kepada seluruh warga Indonesia; sewajarnyalah kita untuk menjaga dan melestarikan keindahannya secara bersama-sama.

Begitu juga dalam novel ekologi karya Hanna Rambe, yang berjudul Pertarungan, keindahan-keindahan hutan tropis kita, begitu agung terlukis, menggemingkan hati untuk mempersembahkan sedikit hijaunya kepada anak-cucu. Gaya penceritaan Hanna Rambe yang merujuk genre Jurnalisme-dokumentatif, membuat ensiklopedis yang dikemas dalam bentuk novel ini, menjadi kemudahan tersendiri untuk memahami pesan yang hendak ditransformasikan Hanna Rambe kepada pembacanya.

Novel Hanna Rambe yang berlatar di panggung bumi Sumatera ini, menceritakan tentang ketimpangan ekosistem di belantara barat Selindong. Makin terdesaknya habitat gajah oleh manusia yang larut akan keserakahan dan modernitas, membuat habitat gajah itu mengamuk dan merusak ladang-ladang milik manusia, selain juga menyerang perkampungan yang ada di gigir hutan.

Menurut Hanna Rambe, medium kekerasan dalam setiap pertarungan adalah kepentingan. Manusia membunuh gajah untuk sebuah kepuasan dan syahwat kekuasaan, sehingga kematian dan darah gajah hanya menjadi pameran keperkasaan dan tawa kebanggaan. Klimaksnya, gajah itu mengamuk, membinasakan ladang dan bahkan meminta korban manusia karena manusia tidak lagi dianggap kawan yang bersahabat.

Gerson Poyk berpendapat bahwa; novel ini merupakan sebuah kisah biofili (kecintaaan kepada kehidupan biotis tempat manusia tergantung padanya) dan kecenderungan nekrofilis (manusia yang mencintai kematian). Kesadaran kita tergugah oleh pemahaman bahwa setiap langkah manusia selalu memiliki kendala sehingga setiap orang harus waspada . Kewaspadaan yang menerima kesadaran etis untuk menghindari kecenderungan nekrofili dalam diri manusia.

Karya-karya sastra bertema lingkungan, secara sadar mereka buat sebagai peringatan terhadap manusia, bahwa! Bencana alam terjadi bukan karena tidak bersebab. Hukum sebab akibat masih berlaku di bumi, meski kita seringkali alpa memikirkan akibat dari perbuatan kita. Kadang, akibat yang diterima lebih besar dari sebab yang kita perbuat.

Dari sekian karya-karya sastra ekologi, jika kita tarik garis merah, ternyata ada saling keterkaitan pesan yang hendak mereka sampaikan. Karya-karya sastra ekologi, secara halus ingin memberikan pencerahan dalam memperbaiki moralitas destroyer manusia terhadap keberlangsungan mahkluk hidup di muka bumi. Harapan mereka sama, seperti harapan kolektif para penyayang lingkungan hidup seantero dunia, hanya saja “bungkus” yang mereka pergunakan berbeda.

Intinya, karya-karya mereka hendak menggingatkan kita untuk ikut menjaga keutuhan ekologi yang kian mengalami ketimpangan. Bukan memalui sikap radikal seperti yang kerapkali dipertontonkan pengikut Earth First maupun Green Peace di Amerika yang kerap bersinggungan dengan ekologi sosial, melainkan dengan “dongeng”, yang kadang menjadi mitos paling ampuh dalam memberi kita pencerahan untuk tetap berkawan dengan alam.
Baca Selengkapnya...

Sabtu, 2008 Juli 19

Kuasa Bahasa Blog


“Blog” mungkin bukan lagi kata asing di era robot ini. Setelah melahirkan revolusi industri, secara ekstrem dunia lahir dengan bentuknya yang baru. Berbagai negara mengalami kemajuan di bidang teknologi dan komunikasi yang pesat. Bahkan, untuk mengelilingi dunia sekalipun, kita hanya perlu duduk menghadap sebuah layar yang sudah terhubung dengan jaringan web.

Media blog pertama kali di populerkan oleh Blogger.com yang dimiliki oeh PyraLab sebelum akhirnya PyraLab diakuisi oleh Google.com pada akhir tahun 2002 yang lalu. Semenjak itu, banyak terdapat aplikasi-aplikasi yang bersifat “sumber terbuka” yang diperuntukkan perkembangan para penulis blog.


Blog mempunyai fungsi yang beragam, mulai dari sekedar catatan harian, media publikasi dalam kampanye politik, sampai program-program media dan perusahaann. Seringkali blog di kelola seorang penulis tunggal, namun banyak juga yang memelihara blog banyak orang. Beberapa blog juga sudah memiliki fasilitas ionteraksi dengan para pengunjungnya, yang dapat memperkenankan para pengunjungnya untuk meninggalkan pesan atau komentar pada si empunya.

Nge-blog (istilah bahasa Indonesia untuk melakukan blogging) harus dilakukan sesering mungkin. Hal ini ternyata berguna untuk mengetahui eksistensi pemilik blog. Juga untuk mengetahui sedah sejauh mana blog dirawat (mengganti template) atau menambah artikel.

Menurut sumber di web, sudah lebih dari 10 juta blog di temukan di dunia maya. Dan kemungkinan besar akan terus bertambah seiring perkembangan zaman. Blog saat ini memang sedang menjadi tren bagi semua kalangan, baik penulis blog pribadi (personal blogger); penulis blog bisnis (business blogger); penulis blog organisasi (organizational blogger); dan penulis blog profesional (professional blogger).

Karena blog sering digunakan untuk menulis aktifitas sehari-hari yang terjadi pada penulisnya, ataupun merefleksikan pandangan-pandangan penulisnya tentang berbagai macam topik yang terjadi dan untuk berbagi informasi - blog menjadi sumber informasi bagi para hacker, pencuri identitas, mata-mata, dan lain sebagainya. Banyak berkas-berkas rahasia dan penulisan isu sensitif ditemukan dalam blog-blog. Hal ini berakibat dipecatnya seseorang dari pekerjaannya, di blokir aksesnya, di denda, dan bahkan ditangkap.


Konsep John Austin Terhadap Bahasa
Alasan saya mencoba menganalisa bahasa di blog dengan menggunakan konsep John Langshaw Austin atu lebih dikenal dengan Austin, karena dia begitu bersemangat menyelidiki bahasa biasa, bahasa pergaulan sehari-hari. Dan lewat bahasa blog, saya akan mencoba merefleksikan pandangan pemilik blog dengan pendekatan filsafat analitik.

Dalam bahasa sehari-hari terdapat banyak distingsi dan nuansa halus yang diperkembangkan selama banyak generasi oleh pemakai bahasa dalam usaha mengungkapkan pikiran mereka. Bahasa hendaknya tidak boleh dilepaskan dari situasi kongkrit di mana ucapan-ucapan kita kemukakan dan fenomena-fenomena yang di maksudkan.

Salah satu karya Austin yang termahsyur adalah how to do thing with wordses. Dalam buku tersebut Austin membahas bahasa biasa atau bahasa yang kita pergunakan dalam kehidupan kita sehari-hari. Kaum (kelompok) merupakan subjek yang selalu menggunakan bahasa sehari-hari. Jadi sangat menarik membahas filsafat analitik jalan Austin. Kami berusaha memahami bahasa karena peranan bahasa sangat penting. Bahasa mencerminkan pikiran seseorang. Bahasa yang baik mencerminkan jalan pikiran yang baik. Sebaliknya bahasa yang kacau mencerminkan jalan pikiran yang kacau pula.

John Langshaw Austin lahir di Austin Inggris (1911), belajar filologi klasik serta filsafat di Oxford dan menjadi profesor di sana. Waktu perang dunia ia bekerja sebagai militer bagi British Inteligence Corps dan mencapai pangkat letnan kolonel. Biarpun ia sendiri menerbitkan sedikit sekali tulisannya (pemikirannya, namun dengan kuliah-kuliahnya dan diskusi-diskusi berkala, ia mempunyai pengaruh besar sekali dalam kalangan filosofis Oxford. Sesudah ia meninggal pada umur 48 tahun tiga buku diterbitkan oleh J.O. Urssin dan G.J. Warnock (Philosophical papers [191: edisi yang diperluas 1970) mereka mengumpulkan paper yang pernah dibawakan Austin pada pelbagai kesempatan; sense and sensi bilia (1962) bahkan memuat bahan kuliah yang diberikannya di Oxford dan dalam How to do thing with words (1962) dicantumkan The William Jame Lecturs yang dibawakannya di Universitas Harvard (Amerika Serikat) pada tahun 1955.

Seperti halnya Wittgeinstein, Austin menaruh perhatian sama pada kelompok ujaran yang tidak dimaksudkan untuk menyatakan benar atau salah. Austin membedakan ucapan menjadi dua jenis, yaitu ucapan Konstantif (Constantif Utterance) dan ucapan Performatif (Performatif Utterance). Ucapan Konstantis merupakan ucapan atau ujaran yang kita pergunakan manakala menggambarkan suatu keadaan yang faktual. Pada batas ini, Austin meng-amini pandangan Atomisme Logis dan Positivistik Logik. Suatu ucapan konstantif terkandung suatu pernyataan yang memungkinkan situasi pendengar menguji kebenarannya secara empirik (baik secara langsung maupun tidak).

Ucapan Performatif (Performative Utterance) berbeda dengan ucapan yang dapat diperiksa benar atau salahnya, karena itu dapat ditentukan kandungan makna dari ucapan tersebut maka ucapan performatif tidak dapat diperlakukan seperti itu. Karena itulah Austin menegaskan ucapan performatif tidak dapat dikatakan benar atau salah seperti halnya ucapan konstatif melainkan laik atau tidak (happy or anhappy) untuk diucapkan seseorang. Di dalam ucapan performatif ini peranan si penutur dengan berbagai konsekuensi yang terkandung dalam isi ucapannya sangat diutamakan.

Menurut pendapat Austin, kita dapat mengetahui bentuk ucapan performatif ini melalui ciri-ciri berikut: a) diucapkan oleh orang pertama (persona pertama), b) orang yang mengucapkannya hadir dalam situasi tertentu, c) bersifat indikatif (mengandung pernyataan tertentu), d) orang yang mengucapkannya terlibat secara aktif dengan isi pernyataan tersebut.

Keempat ciri bisa saja dikenakan pada ucapan konstantif, namun penekanan utama dalam ucapan konstantif tidak terletak pada si penutur (subjek), melainkan pada objek tuturan-dalam hal ini peristiwa faktual. Sedangkan dalam ucapan performatif, penekanan utama tetap diletakkan pada si penutur dengan kelaikan pengucapannya. Akan tetapi keempat ciri tersebut belumlah menjamin kelaikan ucapan performatif.

Teori Austin yang paling berpengaruh adalah tentang ujaran performatif, yaitu ujaran yang mengandung tindakan bebas dari urusan benar-salah. Teori ini kemudian dilepas-kembangkan menjadi teori tindak tutur. Terdapat tiga tindak dalam melakukan ujaran menurut Austin, yaitu tindak lokusi; tindak melakukan ujaran, ilokusi; yaitu tindak membentuk ketika berujar, dan tindak perlokusi; yaitu tindak untuk mencapai efek tertentu terhadap pendengar.


“Jargon” Blog Kaya Warna Bahasa
Blog sudah menjadi semacam rumah bagi para blogger (pembuat blog) di dunia maya. Sebuah identitas yang kemudian menjadi pertunjukkan akbar atas eksistensi setiap orang. Dalam sebuah blog, kita bebas berkreatifitas tanpa harus takut dianggap jelek, atau bahkan terdiskriminasi. Karena dalam internet, kita pasti akan menemukan komunitas blog yang mungkin sejalan dengan emosi kita.
Dampak positif dari banyaknya blog dalam jaring-jaring maya, yang bisa diakses oleh siapapun ini adalah makin berwarnanya leksikon, kalimat dan wacana yang ada. Saya begitu tertarik pada jargon-jargon yang selau dimunculkan oleh pemilik blog untuk menjadi semacam catatan kaki bagi nama blog-nya.

Pergilah ke mana hati membawamu. Ini merupakan kalimat jargon yang saya temukan dalam blog dengan judul BetinaLiar oleh fian di Yogyakarta. Dari contoh satu jargon dalam sebuah blog itu, masalah yang terkandung dalam ucapan performatif adalah, apakah si penutur mempunyai wewenang untuk melontarkan ucapan seperti itu.

Jargon itu adalah bentuk ujaran performatif karena sudah memenuhi empat ciri-ciri ujaran performatif menurut Austin, 1. Diucapkan oleh orang pertama (persona pertama), 2. Orang yang mengucapkannya hadir dalam situasi tertentu, 3. Bersifat indikatif (mengandung pernyataan tertentu), 4. Orang yang mengucapkannya terlibat secara aktif dengan isi pernyataan tersebut.

Keempat ciri bisa saja dikenakan pada ujaran konstantif, namun penekanan utama dalam ucapan konstantif tidak terletak pada si penutur (subjek), melainkan pada objek tuturan-dalam hal peristiwa faktual. Sedangkan dalam ucapan performatif, penekanan utama tetap diletakkan pada si penutur dengan kelaikan pengucapannya. Akan tetapi keempat ciri tersebut belumlah menjamin kelaikan ucapan performatif.

Pergilah ke mana hati membawamu yang merupakan jargon BetinaLiar secara pengujaran masuk ilokusioner. Karena jargon tersebut membentuk kalimat yang berisi tentang fungsi. Jargon, menurut Austin memiliki dua fungsi, yaitu kalimat sebagai perintah atau nasehat. Dalam Ilokusi ini, Austin lebih menitikberatkan pada “Tindakan dalam pengetahuan sesuatu” sebab disitu terkandung sesuatu daya atau kekuatan (force) yang mengharuskan si penutur untuk melakukan isi tuturannya. Fian, sebagai orang yang bertanggung jawab dalam tuturannya yang ditulis di blogsnya, telah mengetahui terlebih dahulu situasi dan keadaan tertentu yang kemudian direfleksikan dalam bentuk jargon dalam blognya.

Kalimat Pergilah ke mana hati membawamu mungkin akan membawa dampak yang begitu besar bagi pembacanya. Hal itu mungkin saja terjadi, dalam tindakan illokusi kita melihat isi tuturan lebih mengena diri si penutur jadi tindakan perokusi ini adalah akibat dari penaruh yang ditimbulkan oleh tuturan, baik nyata maupun tidak. Di sini terkandung unsur kesengajaan dari si penutur untuk mempengaruhi pendengarnya melalui isi tuturan yang dilontarkannya.

Menurut Austin, mengatakan sesuatu acapkali menimbulkan pengaruh yang pasti terhadap perasaan, pemikiran atau perilaku si pendengar atau si penutur itu sendiri, ataupun bagi orang lain. hal ini dapat dilakukan dengan cara merancang, mengarahkan atau menetapkan tujuan tertentu pada perkataan yang akan kita ungkapkan. Inilah yang dinamakan tindakan perlokusi.

Bahasa merupakan produk terbesar manusia. Bahasa merupakan kekayaan yang melahirkan produk-produk lain. Bahasa merupakan bentuk verbal pikiran manusia. Bahasa adalah alat dan sarana untuk berkomunikasi. Mempunyai kemampuan berbahasa yang baik memungkinkan terjadinya komunikasi yang baik pula, dan sebaliknya. Bahasa mampu menyatukan ribuan bahkan jutaan orang, tetapi sebaliknya bahasa (ucapan) mampu memecahbelah kesatuan. Bahasa merupakan ekspresi senang, cinta, dan sebaliknya bahasa digunakan juga untuk mengumpat, sumpah serapah, percekcokan, dan lain-lain. Pendeknya bahasa tidak bisa lepas dari hidup manusia. Bahasa adalah salah satu unsur terpenting dalam hidup manusia.

Bahasa tak pernah lengkap atau sempurna, tetapi selalu mengalami perkembangan seturut perkembangan jaman. Bahasa itu dinamis sebagaimana manusia dinamis. Oleh karena itu, pengetahuan berbahasa harus dikembangkan agar tetap relevan dengan jaman yang selalu berkembang. Pembahasan tentang bahasa telah ada sejak jaman dahulu dan hingga sekarang masih terus berkembang. Banyak orang memberi perhatian terhadap bahasa. Banyak orang berusaha memberi penjelasan tentang bahasa agar semakin dipahami oleh orang banyak. Di antara pemerhati itu terdapat sejumlah filsuf. John Langshaw Austin adalah salah satu filsuf yang membicarakan bahasa. Pemikirannya sangat menarik sebab menyangkut pemakaian bahasa dalam kehidupan sehari-hari.

Banyak sekali jargon-jargon blog, yang menggunakan tindak illokusioner. Contohnya adalah jargon dari “Bukuku” blog sahabat saya, Muhidin M. Dahlan yang berbunyi Dari semua yang telah ditulis, aku hanya mencintai apa yang ditulis seseorang dengan darahnya. Menulislah dengan darah dan aku akan dapati bahwa darah itu roh.

Tindakan Illokusi sangat menarik untuk penulis. Tindakan ini marak digunakan dewasa ini. Dalam ungkapan ini terkandung kesenagajaan dari si penutur untuk mempengaruhi pendengarnya melalui isi ujaran yang dihaturkannya. Demi kepentingan pribadi dan kelompoknya, orang sering berusaha mempengaruhi bahkan menghasut orang lain agar mau melihat isi rumah (blog). Sehingga, setelah melihat dan membaca konten blog, bukan tak mungkin pembaca kemudian akan terpengaruh.

Jargon-jargon dalam blog, memang tidak beda jauh dengan kampanye-kampanye para politikus, para calon wakil rakyat yang sering mengutamakan janji-janji muluk, pidato berkobar-kobar, misi dan visi yang hanya untuk mempengaruhi orang lain. Celakalah orang yang tidak memahaminya sebagai sebuah hasutan belaka, yang mau mengikuti mereka yang mempengaruhinya.

Menjadi penting kemudian kita belajar Filsafat bahasa, untuk menjadi filter dari bayang-bayang kata, kalimat dan wacana dimanapun yang bisa saja menyesatkan kita. Filsafat bahasa mengandung upaya untuk menganalisis unsur-unsur umum dalam bahasa seperti makna, acuan (referensi), kebenaran, verifikasi, tindak tutur, dan ketidaknalaran.

Kesimpulannya adalah, analisis Austin sebagai satu figur filsuf bahasa yang lahir setelah masa filsut besar dan kenamaan Wittgenstein, perlu kita pelajari karena sangat relevan dan kongkrit pada masa kini. Dengan memahami analisis Austin ini orang diharapkan tidak akan mudah keliru, salah paham, terpengaruh, mudah diperalat.
Baca Selengkapnya...

Baru Update